Menyampaikankebaikanproject

Cinta di Dalam Secangkir Kopi Bunga Merekah

Bulir air mata yang menetes itu telah menganak sungai di pipinya, semakin deras dan semakin menjadi-jadi, kelu. Selena mengusap perlahan bulir itu, bulir yang memang telah membasahi pipi manisnya yang bak bulan, membuat matanya menjadi begitu sembab. Dia terbaring di atas tempat tidur yang berantakan. Pintu dikunci rapat-rapat, penyesalan akhirnya datang, menyesaki dada, memacu detakan jantung dan mempercepat aliran derai air matanya. Selena tak pernah menyadari hal ini akan menjadi sesuatu yang akan begitu disesalinya, tak pernah fikiran itu sampai ke dalam sel-sel neuron di otaknya. Segala fikiran tentang sebuah kesalahan yang telah ia lakukan, telah tertutup oleh bayang-bayang semu seksualitas dan pergaulan bebas masa muda. Dia baru menyadari bahwa harta berharganya telah dirampas, kemuliaannya telah direnggut, semua itu baru ia sadari setelah seorang lelaki melamarnya. Apa lagi yang mesti ia persembahkan kepada bakal suaminya nanti, keistimewaan apa yang mesti ia hadiahkan, saat semuanya telah diambil dan direnggut oleh mantan pacarnya dulu. Bahwa, sekarang dia sudah tidak perawan lagi.

*                      *                      *

 

Selepas kuliah siang itu, Riordan mengejar Selena yang telah berlalu diantara kerumunan teman-temannya yang ribut membicarakan dosen yang begitu menyeramkan jika memberikan kuliah. Saat kuliah tadi, Riordan telah memperhatikan Selena lama dari bangku belakang, dia tak peduli seberapa menyeramkan dosen yang mengajarnya, matanya telah diracuni oleh kecantikan Selena yang bak bulan pada malam purnama. Otaknya kini telah teracuni, mungkin teracuni oleh cinta yang mengalir dalam aliran darahnya. Dia telah lama mengejar-ngejar Selena, dia juga telah memulai pendekatan secara persuasif sejak lama, berharap Selena mau memberikan sebelanga cinta untuknya, atau setidaknya sedikit membuka hati untuk cintanya.

“Selena…Selena !” Riordan memanggil Selena yang berlalu.

Selena menoleh ke belakang, lalu tersenyum dan menyapa Riordan yang berlari mengejarnya.

“ada apa Rio?”

Riordan lalu mengatur ritme nafasnya yang begitu sesak, mencoba menghilangkan sedikit grogi perlahan menyembul dari dalam dirinya.

“o ya, aku mau traktir kamu di kafe ‘begini adanya’ nanti sore, bisakah kamu datang ?”

“aku akan sangat bersedih jika kamu menolak ajakan ini”

Riordan melanjutkan ajakannya sambil tersenyum.

“Uhmmm…gimana ya? Rasanya aku ada jadwal sore ini”

Selenapun berlagak jual mahal, karena ia telah membaca keadaan ini dari awal.

“Pliiiiss….”

Riordan memohon dengan memajang tampang memelas.

“baiklah kalau begitu, aku usahakan ya”

Selena tersenyum dan berlalu meniggalkan Riordan dari hadapannya.

Riordan terdiam dan melonjak kegirangan, seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre.

Sore itu, di kafe tempat mereka berjanji, kafe ‘begini adanya’. Kafe yang menyajikan secangkir kopi yang membuat lidah orang yang mecicipinya menjadi sumringah. Kafe yang menjadi tempat pilihan Riordan sore itu, kafe yang menyediakan secangkir kopi yang akan menjadi saksi bisu sejarah cinta mereka, dengan beberapa keping biskuit dan daftar menu yang tersedia di atas meja. Riordan telah duduk manis di meja nomor sepuluh menunggu Selena sambil menyeruput kopi dihadapannya. Keterlambatan Selena memberikan waktu untuk Riordan mengumpulkan mentalnya yang terserak karena grogi akut yang telah ia derita jika berpas-pasan dengan Selena. Selena sekarang mungkin juga agak bingung memilih baju mana yang hendak ia pakai agar terlihat lebih anggun di hadapan Riordan.

“maaf, aku agak terlambat “

Selenapun datang dan langsung mengutarakan maafnya karena telah membuat Riordan menunggu agak lama.

Selena duduk berhadapan dengan Riordan, mereka lalu memulai pembicaraan biasa, setidaknya untuk menghilangkan tembok besar yang masih menghalangi mereka berdua ketika berbicara, dan mengumpulkan mental Riordan yang telah terserak. Perasaan cinta itu begitu menggebu-gebu, kadang mempercepat detakan jantungnya. Pembicaraan itupun masuk ke inti permasalahan, ketika tembok besar itu telah roboh dan ketika seluruh mental Riordan terkumpul menjadi satu kesatuan yang utuh.

“maukah kamu jadi bungaku? Dan akupun jadi kumbangmu”

Kata-kata itu akhirnya terlontarkan dari mulutnya, dengan gaya bahasa agak menggombal terkesan agar terlihat romantis, Riordan mengutarakan isi hatinya.

Selena tertunduk, memperhatikan biskuit yang dari tadi tersenyum kepadanya. Riordan terdiam, mati gaya, karena Selena juga terdiam lama tak menyahut apa-apa. Setelah beberapa saat, Selena menatap Riordan, semburat merah muncul dari pipinya. Selena lalu menunduk dan mengangguk malu, sebagai tanda bahwa itulah jawaban dari pertanyaan yang diajukan Riordan. Riordan juga terdiam, rasa bahagia yang tertahan, apalagi melihat wajah Selena bak bulan di malam purnama yang bertambah terang, tapi tak menyilaukan.

Sejak sore itulah, kisah cinta mereka mulai ditulis, hangatnya cinta masa muda yang begitu menyelimuti. Di kafe ‘begini adanya’, disaksikan secangkir kopi hangat yang tersenyum, bahwa cinta itu merekah disana, di dalam gigitan kepingan biskuit yang menemani hangatnya sore mereka, sambil menanti bulan yang menyembul dari horizon langit. Cerita cinta itupun berlanjut.

 

*                      *                      *

 

Sekarang, cerita cinta itu terus ditulis, kisah mereka telah berlalu selama empat bulan. Hangatnya cinta yang menggebu-gebu diantara keduanya masih lekat terasa. Rasa takut kehilangan itu begitu kuat, bahwa Selena tidak ingin kehilangan jantung hatinya, begitupun Riordan, tak ingin jauh dari urat nadinya. Setiap hari, selalu ingin bersama, tak ingin berpisah. Rasa yang meluap-luap itu begitu hambar terasa ketika tidak diungkapkan dengan sebuah sentuhan atau semacamnya.

Hari itu begitu banyak orang di jalanan, karena rasa takut kehilangan dan rasa ingin melindungi Selena, maka Riordan memberanikan diri untuk menggandeng tangan Selena. Pertama ada rasa gugup di dalam hatinya, tapi tangan Selena semakin erat menggenggam tangan Riordan. Gugup mulai menguap dibawa angin, mereka saling merasakan nyaman, tak peduli apapun yang terjadi, genggaman tangan itu tak akan dilepas. Orang-orang dijalanan terasa beterbangan, lalu memasuki awan, dan tak terlihat. Jalanan menjadi kosong lalu sepi, yang ada hanya mereka berdua, tak ada siapa-siapa, hanya mereka berdua di atas dunia, begitulah dimabuk cinta.

Hari-hari terasa berbunga-bunga, setiap hari satu bunga akan bermekaran, dan bunga yang lain akan bermekaran di hari berikutnya. Begitulah perasaan seorang yang di mabuk cinta, fikirannya akan diracuni, neuron-neuron di kepalanya akan dipenuhi oleh bunga-bunga. Cinta itu adalah ketergantungan, seperti seseorang ketergantungan dengan morfin, kokain atau zat-zat semacamnya, begitu jugalah cinta yang diungkapkan dengan sentuhan. Saat dirasakan satu kali, maka akan semakin besar keinginan untuk kali kedua, lalu akan ketergantungan, selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Semakin besar keinginan untuk merasakan lebih dalam, maka semakin besar pula ketergantungan akan hal itu timbul. Riordan menggandeng tangan Selena dengan erat, begitu hangat yang ia rasakan, semakin dalam ia mencoba merasa, maka semakin tenang yang ia rasa, karena cinta juga menenangkan. Genggaman itu terasa sangat bermakna bagi Riordan dan Selena, walaupun hanya sebentar, tapi kedalaman yang mereka rasa sangat bermakna. Ada keinginan untuk tetap menggandeng tangannya, mungkin di lain waktu, atau di lain kesempatan, yang pas.

Rasa rindu akan hal itu saking dalam terasa, seperti sakau dengan kokain. Setiap ada kesempatan mereka pergi bersama atau setiap mengunjungi kafe ‘begini adanya’ menikmati sajian kopi ‘bunga merekah’ yang merupakan saksi bisu cerita cinta mereka, Riordan slalu menggandeng tangan Selena, menggenggamnya erat. Kemanapun mereka pergi, tangan mereka selalu tersilang, hingga hal itu menjadi sebuah kebiasaan, dan mereka terbiasa, dan rasa rindu akan genggaman tangan itu juga jadi hal biasa. Setiap hal pasti selalu ada peningkatan, seperti menikmati kokain di dosis yang rendah, lalu dosis itu menjadi hal yang biasa karena telah terbiasa dan tak menantang lagi, maka dosisnya akan ditambah menjadi lebih tinggi, hingga tinggi, hingga overdosis, dan mati dengan mulut berbusa. Saat menggenggam tangan menjadi hal yang biasa, maka timbul keinginan untuk hal lain, seperti mengecup atau sekedar memeluknya atau hal lain yang masih satu dosis dengan hal itu.

Malam itu mereka menikmati kopi ‘bunga merekah’ di kafe ‘begini adanya’, ditemani sebatang lilin, secangkir kopi dan beberapa keping biskuit. Mereka begitu menikmati malam itu, dari jendela kaca mereka bisa melihat ke arah langit saat purnama bersinar. Cahaya purnama menembus jendela kaca yang membuat temaram cahaya lilin semakin menyentuh di kedalaman rasa mereka. Mereka berbincang-bincang sepuasnya, tertawa, dan saling tersenyum satu sama lain. Tangan Selena menggapai di atas meja, tangan Riordan juga tergerak untuk hal serupa, tangan mereka menggapai di atas meja, lalu bertemu, saling menggenggam erat, mengalahkan dinginnya malam itu. Malam itu disaksikan sebatang lilin dan seulas cahayanya, secangkir kopi yang selalu merekah, Riordan mengecup kening Selena. Temaram bulanpun malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Secangkir kopi selalu menjadi saksi cerita cinta mereka. Entah cerita seperti apa.

Hujan deras mengguyur kota kecil mereka, rumah Selena semakin gelap karena sebuah pohon besar tumbang menimpa tiang listrik dan memadamkan listrik sebagian kota. Selena ketakutan saat hujan dan petir menyambar-nyambar sekaligus, saat listrik padam dan malam juga akan datang menyapa.

“Riordan, aku takut”

Kata selena dari telepon genggam, dia menelepon Riordan di dalam ketakutannya.

“kamu dimana sayang? Kamu baik-baik sajakah?”

“aku di rumah, aku sendirian, aku takut rio…orangtuaku ke luar kota selama tiga hari”

“tunggu aku disana, aku akan kerumahmu sekarang”

“cepat ya, disini listriknya padam, hujannya begitu deras dan petir yang menyambar juga semakin menjadi-jadi”

“iya sayang, aku akan kesana secepatnya”

Lalu telepon genggam itupun mati seiring malam berjalan menunggu kehadiran Riordan di kediaman Selena.

Riordan telah sampai di sana, di sebuah rumah yang mungil dan gelap karena listrik yang padam. Hujan mengguyur begitu derasanya, di sana hanya ada mereka berdua. Selena telah membuatkan Riordan kopi, lebih hangat dan lezat mungkin dari kopi ‘bunga merekah’ di kafe ‘begini adanya’. Riordan agak kaku dan duduk di atas sofa ruang tamu Selena, yang biasanya dia ditemani orang tua selena, tapi sekarang mereka hanya berdua, tak ada siapa-siapa. Riordan memulai sebuah pembicaraan untuk mencairkan suasana hati Selena yang masih ketakutan ditinggal sendiri, sekalian untuk menghilangkan kakunya. Seiring malam berlalu, mereka lupa waktu. Cerita demi cerita berlanjut, tak ada yang tau, mereka hanya berdua, saling cerita dan bercanda.

“Maaf Selena, malam telah larut, aku harus pulang, hujan juga sudah reda”

Riordan berniat pamit pulang sambil melirik jam tangannya yang telah menunjukkan jam sembilan malam. Riordan bangkit dari sofa tempat dia duduk dan melangkah menuju pintu untuk bergegas pulang.

Riordan melangkah menuju pintu dan memegang gagang pintu untuk pamit, tapi dari belakang Selena memegang tangan kiri Riordan dan menahannya.

“disini saja malam ini, aku sendirian, aku takut” kata Selena.

Riordan lalu membalikkan badan, selena telah menahannya. Selena mengunci pintu, memandang Riordan. Riordan juga memandang Selena di kedalaman matanya, tangannya mengusap rambut Selena dan membelainya. Selena lalu melingkarkan tangannya di pinggang Riordan, Riordan mengusap pipi Selena. Riordan memeluk dan mengecupnya. Seperti kokain, saat dosis yang lama telah terbiasa dan terasa tak meyenangkan lagi, maka dosisnya akan semakin tinggi dan semakin ditingkatkan, rasa dan efeknya juga akan terasa lebih maksimal di tubuh. Semua itupun terjadi, saat Riordan dan Selena tak lagi dapat menahan diri, saat nafsu dan seksualitas diatasnamakan dengan cinta. Semua terjadi di malam itu, listrik yang padam dan ditemani lilin temaram dengan cahaya redup. Biarlah kopi buatan Selena yang menjadi saksi bisu di malam itu.

Hari-hari berikutnya menjadi hari-hari biasa, tak ada lagi cinta, yang tersisa hanya hasrat, hasrat seksualitas yang semakin haus dan semakin merindu. Seperti tubuh yang rindu kokain, yang memberikan kenikmatan, memberikan dunia, memberikan segalanya dalam hidup, walau hanya sementara.

“Rio…ke rumah nanti malam ya, orang tuaku ke luar kota”

“oke..tunggu aku di rumahmu ya, aku akan menberikan dunia padamu malam ini”

Lalu pembicaraan ditelfon itu ditutup dengan sedikit kecupan manja dan menggoda. Setiap momen ketika kesempatan itu ada, maka itu terjadi. Setiap orang tua Selena ke luar kota, kopi buatan selena selalu menjadi saksi temaram malam dan seksualitas masa muda mereka, dihiasi oleh hasrat dan kenikmatan dunia yang sementara.

Sekarang, semuanya telah berbeda. Mereka bertemu hanya untuk seks, mereka membuat janji hanya untuk hasrat dunia dan melepaskan hausnya tubuh mereka satu sama lain. Tak ada lagi cinta, yang ada hanya hasrat dan nafsu. Cinta yang menggebu dulu itupun telah sirna, tak ada lagi saling melindungi, saling memahami, saling melengkapi dan saling memuliakan. Sekarang yang ada hanya seks, hasrat, dunia, viagra dan kenikmatan sesaat. Mereka bertemu untuk itu, tak ada alasan lain mereka untuk bertemu. Alasan mereka bertemu hanya seks dan kenikmatan dunia sementara, yang terpenting adalah rasa haus dan kerinduan mereka terpenuhi. Tak ada masa depan, tak ada cinta yang memuliakan, tak ada lagi bunga-bunga bermekaran di dalam fikiran dan perasaan mereka, yang ada hanya kesenangan detik dan menit itu.

Hubungan mereka sekarang hanya seks, seks dan seks sampai akhirnya mereka pada suatu titik, titik jenuh dan kebosanan. Saat rasa akan seks dan hanya seks telah sampai pada sebuah titik puncak, maka timbulah sebuah rasa bosan dan titik jenuh. Saat jemarinya telah menghafal tubuh Selena, tak ada lagi sensasi, tak ada lagi rindu, dan tinggallah bosan serta sebuah ruang kosong yang hampa di dalam hati mereka. Pada saat itu muncullah keinginan untuk mencari kerinduan yang lain, hati yang kosong dan hampa itu mengiginkan belai kasih dan sayang serta cinta, bukan hanya nafsu semata. Berujunglah semua hal itu dengan sebuah perselingkuhan.

*                      *                      *

 

Riordan dan Selena duduk di tempat biasa dan di meja yang biasa mereka tempati. Keadaan sekarang ini agak sembrawut, kopi ‘bunga merekah’ kini agak layu di meja nomor 10. Kafe ‘begini adanya’ agak beraura menyeramkan bagi mereka.

“kamu selingkuh ya sama perempuan lain…?!!!”

Suara Selena agak meninggi.

“Mana mungkin aku selingkuh, cuma kamu satu-satunya cintaku, Selena”

Riordan melunakkan suaranya dengan nada agak merayu .

“kamu pembohong…!”

Suara Selena semakin meninggi dengan nada membentak. Selena lalu menyodorkan telepon genggamnya ke arah Riordan, di sana terdapat sebuah foto Riordan yang berciuman dengan perempuan lain.

“kamu hidung belang…!!!”

Selena menghentak meja, Riordan terhenyak, dia terdiam dan tak dapat berkata-kata. Semua orang di kafe tersebut memperhatikan mereka.

“kamu tidak lagi mencintaiku, tidak pernah memperhatikanku…”

Dengan wajah tenang Riordan membela diri.

“kamu kira aku tidak mengetahuinya, kemarin sore kamu pergi dengan seorang lelaki dengan rambut sebahu, lalu minggu sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya lagi”

Riordan menyampaikan semua yang ia ketahui dengan tenang, walaupun dia mempunyai sebuah kesalahan, dia juga mempunyai amunisi untuk menjatuhkan Selena.

“saya rasa hubungan kita ini tak layak lagi dipertahankan, sebaiknya mulai sekarang kita jalan masing-masing saja”. Riordan menyampaikan sebuah usul.

“Baik…!!!, mulai hari ini kita putus !!!” bentak Selena sambil menghentak meja dengan kedua tangannya. Semua kembali memperhatikan mereka di kafe tersebut. Selena mengambil cangkir kopi ‘bunga merekahnya’ dan menyiram Riordan.

“kamu memang bajingan…!!!”. Bentak Selena.

Selena lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Riordan yang menggerutu karena basah oleh kopi dan menanggung malu diperhatikan orang-orang. Pemilik kafe menyadari dia akan kehilangan dua orang pelanggan setianya yang selalu mampir di kafenya setiap akhir pekan. Selena berjalan menjauh, bulir air mata jatuh di pipinya, cinta telah menguap bersama awan dan telah terserak ketika ia menumpahkan kopi ‘bunga merekahnya’. Kopi itu menjadi saksi bisu awal dan akhir kisah cintanya di kafe ‘begini adanya’.

 

*                      *                      *

 

Setahun kemudian, seorang lelaki tampan dengan perawakan tinggi dan mempunyai bahu yang bidang datang kerumahnya. Lelaki yang dulu ia kenal waktu Sekolah Dasar, lelaki yang dulu culun sekarang sudah begitu tampan dan gentle, dia sekarang sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, lelaki yang dulu pernah ia tertawakan bersama anak perempuan lain di Sekolah karena keculunannya, tapi sekarang dia begitu gagah, tampan dan mapan. Lelaki itu datang kerumah Selena, bertemu dengan orang tua Selena dan menyampaikan maksud kedatangannya bersama kedua orangtuanya, untuk melamar Selena.

Selena memperhatikan tamunya tersebut dari balik pintu, setidaknya dia dapat mendengarkan apa yang mereka perbincangkan.

“Saya berjanji akan mencintai, merawat, melindungi dan memuliakan Selena seumur hidup saya, Pak”.

Begitulah sedikit dari kata-kata yang didengar Selena dari balik pintu. Pikirannya kemudian melayang setahun yang lalu, saat pergaulan masa mudanya ia habiskan bersama Riordan, lelaki yang hanya mempermainkannya, menikmati keindahannya tanpa mau mempertanggungjawabkannya, dia kadang juga mudah tergoda dan kadang menginginkannya pula.

Selena melompat ke atas tempat tidur, harta berharganya telah dirampas, tak ada lagi yang tersisa, kehormatan dan kemuliaannya telah direnggut, apa lagi yang mesti dia persembahkan kepada bakal suaminya nanti, harta apa lagi yang bisa ia berikan saat harta itu telah dirampas dan dinikmati oleh mantan pacarnya dulu. Penyesalan itu datang merambati urat nadinya, masuk mendebarkan jantungnya lebih cepat, dan menyesaki dadanya. Bulir air mata itu jatuh dari kelopak matanya, kini ia hanya perempuan biasa, tak lagi istimewa, dia malu pada dirinya sendiri, tak ada yang spesial, hanya bekas tangan mantan pacarnya yang kini telah melekat di tubuhnya.

Cerita cinta itu tersimpan baik dalam kenangan secangkir kopi ‘bunga merekah’ yang ditemani beberapa keping biskuit. Cerita cinta itu terhimpun dalam kopi di dalam cangkir ‘bunga merekah’ bersama kisah-kisah cinta lainnya yang pernah singgah di kafe itu, kafe ‘begini adanya’. Kadang terserak dan kadang menguap dibawa awan.

 

*                      *                      *

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur:3)”

Menjadi Perempuan

“Hai fulan, apa merk celanamu waktu di dunia?” Tanya seorang Malaikat.
“Merk celanaku adalah ini dan ini, wahai Malaikat” Jawab si Fulan, seorang wanita yang sedang disidang oleh Malaikat di dalam kuburnya.
“Lalu apa merk bajumu waktu di dunia?” Malaikat melanjutkan.
“Merk bajuku adalah ini dan ini, wahai Malaikat” Sambung si wanita.

Apakah kamu menyangka malaikat akan menanyakan seperti hal di atas ketika kamu berada di dalam kubur?. Atau menanyakan apa-apa saja merk-merk baju dan celana yang kamu kenakan ketika hidup di dunia?. Tidak, sungguh tidak demikian. Malaikat hanya akan meminta pertanggungjawabanmu kenapa kamu menimbulkan dosa dari baju dan celana yang ber-merk tersebut.

Malaikat akan meminta jawabanmu. Kenapa kamu mengenakan jins yang kamu banggakan merk dan modelnya, sedangkan jins tersebut mencetak lekuk tubuhmu, me-reka pinggulmu, memperlihatkan jenjang kakimu, jins ketat tersebut, kamu kenakan untuk memperlihatkan semuanya secara blak-blakan kepada semua orang. Kamu kemudian mengenakan baju yang ketat, mencetak pinggangmu, berharap orang tau, bahwa kamu tidak mempunyai gelambir-gelambir lemak di pinggangmu, bahwa kamu adalah orang yang paling seksi dari sekian banyak wanita. Bahwa kamu adalah cantik dimata orang-orang.

Kemudian kamu geraikan rambutmu, bahwa rambutmu adalah rambut paling indah di dunia. Dengan rambut yang kamu geraikan, terlihatlah lehermu yang jenjang. Sewaktu kamu keluar rumah dengan menjajakan lekuk tubuh dan rambut yang tergerai indah itu. Kamu telah menjajakan dosa, dan suatu saat kamu akan dimintakan pertanggungjawaban atas dosa yang telah kamu jajakan.

Mungkin sekarang kamu masih gadis belia, yang merasa bebas, bahwa semua itu adalah hak-mu. Keluar rumah dengan memakai pakaian yang tidak sepantasnya, pakaian yang mencetak tubuhmu. Secara tidak langsung kamu telah membiarkan setiap lelaki untuk melihat dan menikmatinya. Lalu, saat kamu menikah, apa yang akan kamu hadiahkan untuk suamimu, apakah lekuk tubuh yang semua lelaki telah melihatnya, lalu dengan itu kamu mengira kamu masih spesial? Spesial karena kamu milik suamimu satu-satunya.

Saat gadis masih belia, kamu persembahkan tanganmu untuk digenggam oleh laki-laki yang belum tentu dia suamimu, yang seharusnya telah halal menggenggammu. Setelah kamu menikah, kamu hadiahkan genggaman itu untuk suamimu, padahal genggaman tersebut telah kamu hadiahkan untuk lelaki lain sebelumnya. Kamu hadiahkan pelukan itu untuk suamimu, padahal pelukan tersebut telah kamu hadiahkan untuk lelaki lain sebelumnya, dan hal lainnya yang tak pernah kita tahu, lalu kamu katakan bahwa kamu itu spesial bagi suamimu. Bukankah perempuan yang baik itu adalah untuk laki-laki yang baik, dan perempuan penebar dosa itu adalah untuk laki-laki yang penebar dosa.

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur:3)

Sekarang kita lihat, betapa banyaknya perempuan yang berusaha hijrah dan berusaha menjadi lebih baik ketika mereka telah menikah, dengan dalih karena ingin menghormati dan mencintai suami, karena ingin membina hidup yang sakinah dengan keluarganya, agar dirahmati Allah. Hai….apakah kamu lupa? sebelum bersuami kamu hidup dengan siapa? siapa yang menanggung dosa-dosamu?. Tidakkah kamu sadar bahwa sebelum tanggung jawab terhadap kamu jatuh kepada suamimu, tanggung jawab itu berada pada ayahmu, tanggung jawab itu berada pada kakak laki-lakimu. Setelah menikah kamu tidak ingin membuat suamimu berdosa, namun sebelum menikah, dengan kamu mengenakan pakaian yang mencetak tubuhmu itu, tidak menutup auratmu ketika keluar rumah, apakah ayahmu tidak menanggung dosamu tersebut?. Lalu apakah kamu tidak mencintai ayah dan kakak laki-lakimu juga?.

Ada tiga orang laki-laki yang akan dibawa oleh wanita ke neraka, yang pertama adalah ayahnya, karena tidak pandai mendidik anak perempuannya, yang kedua adalah kakak laki-lakinya karena tidak pandai mendidik adik perempuannya, yang ketiga adalah suami yang tidak pandai mendidik istrinya. Apakah sebagai perempuan, kamu mau menjerumuskan ke neraka orang-orang yang begitu mencintaimu tersebut?.

Kamu sangat sering melihat setiap barang bernilai tinggi di etalase toko, terbungkus rapi. Apakah kamu tak ingin seperti mereka, atau kamu hanya ingin jadi seperti sebuah barang yang dijual di kaki lima, di lihat-lihat pembeli, dipegang, diusap, apakah barang bagus atau tidak, jika mereka tak menyukaimu, mereka akan pergi, lalu menunggu pembeli lain yang mau membelimu. Sebuah barang yang sama dengan merk yang sama, yang satu dijual di sebuah toko kaki lima, yang semua calon pembeli boleh menyentuhnya, dan satu yang lainnya dijual disebuah toko mewah, diletakkan di etalase yang disinari lampu neon, terbungkus rapi, dan tak ada pembeli yang boleh menyentuhnya. Menurutmu harga mana yang lebih tinggi. Nilai barang mana yang lebih berharga. Kamu akan tau sendiri.

Jadilah perempuan seutuhnya, jadilah perempuan yang memberikan hak itu kepada orang yang berhak. Cantik bukanlah sesuatu yang kamu pamerkan diluar, tapi sebuah pesona yang kamu bentuk di dalam, dan datang dari dalam. Cantik bukanlah sebuah kemolekan tubuh atau keindahan wajah, cantik adalah sebuah keistimewaan yang kamu jaga baik-baik, agar bernilai tinggi dan begitu spesial. Cantik bukanlah rambut yang kamu geraikan, atau lekuk tubuh yang kamu cetak dengan baju ketat, atau pinggul yang kamu reka dengan jins sempit dan rok mini. Cantik bukanlah fisik yang dipamerkan dengan menor, tapi sesuatu yang kamu jaga dengan baik di dalam, agar kamu spesial – istimewa. Cantik adalah rambut yang kamu tutup dengan hijab, lekuk tubuh yang kamu jaga dengan baju yang longgar, cetak pinggul dan betis yang kamu selimuti bukan dengan jins sempit atau rok mini.

Cantik adalah sesuatu yang kamu jaga untuk kamu hadiahkan kepada seseorang yang benar-benar merindukanmu dan dia mau mempertanggungjawabkanmu di dunia dan di akhirat – agar kamu istimewa di matanya, karena kamu pasti tidak akan mau memberikan sesuatu kepada seseorang yang tulus mencintaimu nanti, tapi sesuatu itu telah kamu berikan kepada orang lain sebelumnya, atau sesuatu yang telah banyak orang melihat dan menikmatinya. Istimewa adalah dirimu yang kamu jaga dengan baik, kamu tutup dengan baik, dan sesuatu yang kamu bungkus dengan rapi, itulah yang akan memberikanmu kecantikan, kecantikan dari dalam, kecantikan yang bernilai tinggi, kecantikan yang terbungkus rapi, bukan kecantikan yang sengaja dibuat-buat.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)

Longgarkanlah pakaianmu, ulurkanlah hijabmu hingga menutupi dada, jangan biarkan jins sempit mencetak pinggulmu, istimewakanlah dirimu. Jagalah hangat tanganmu untuk menggenggam tangan yang berjuang untukmu – tangan yang mencari nafkah untuk kehidupan kalian. Jadikanlah dirimu sebagai seorang perempuan yang disisikan oleh Tuhan dan Malaikat lebih mulia dari bidadari, atau setidaknya sebagai seorang perempuan yang disetarakan oleh Tuhan sama dengan bidadari-bidadari yang dirindukan oleh para syuhada’. Janganlah pernah meminta seseorang sesempurna Muhammad jika kamu belum mampu semulia Khadijah, jangan pernah meminta lelaki terbaik di dunia, kalau kamu bukan perempuan terbaik di dunia.

IMG_942222

Oleh : Robby Jannatan

E-mail : robbyjannatan{a}gmail.com

Jadi, Nikmat Mana Lagi yang Telah Kita Dustakan?

“Aduuh….macet lagi, macet lagi” gumam seorang suami, di dalam mobilnya.

“iya sih, bapak lewat jalan ini, jalan ini kan macet terus pak” istrinya juga ikutan mengeluh.

“udah hari panas, gerah, ntar kan aku arisan bisa telat pak” sambung istrinya lagi…

Matahari semakin menusuk, hingga menyengat sampai ke dashboard mobil.

Setiap hari kita selalu mengeluh, dimana saja, kapan saja, pada siapa saja. Tidakkah kita mau sedikit bersyukur, kita telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan yang lain. Tidakkah kita tau, orang yang mempunyai mobil, telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan orang yang mempunyai motor. Tidak kita menyadari, pada saat macet, pengendara bermotor akan jauh lebih kepanasan daripada orang yang mengendari mobil. yang punya motor, jika panas, akan kepanasan, yang hujan akan kehujanan. Sedangkan yang di dalam mobil tinggal mengatur suhu di tombol AC, selesailah semua permasalahan, tapi masih mengeluh. Tidakkah sadar bahwa pengendara motor telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan pengendara sepeda, “aduh, kok panas kali hari ini”, masih saja mengeluh. Dan pengendara sepeda masih saja mengeluh, yang rantai sepedanya berulang kali lepas. Tidakkah dia sadar bahwa dia telah dilebihkan satu kenikmatan atas pejalan kaki. Jadi, apakah setiap nikmat itu memang selalu kita dustakan? Jadi, nikmat mana lagi yang kita dustakan?.

Sekarang kita coba sedikit bahas tentang pergumulan saya pada QS. Al-Baqarah: 286, dan penggalannya dibawah ini:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Lalu apa hubungan penggalan ayat ini dengan selalu bersyukur?, mari kita bahas lebih jauh. Kalau menurut saya, ayat ini tidak hanya berlaku untuk orang yang tertimpa bencana saja, tapi penggalan ayat ini berlaku untuk semua hal di dalam hidup ini. Bukankah kita hidup ini adalah cobaan. Bukankah semua hal yang diberikan di atas dunia ini adalah cobaan.

Sekarang kita coba ambil satu contoh. Telah banyak orang yang telah berusaha keras untuk mengais rezki, memperjuangkan karirnya, namun tak juga kaya. Telah banyak mahasiswa yang belajar keras, namun tak juga dapat IPK tinggi. Telah banyak orang berusaha agar dikaruniai anak, namun tak kunjung dapat. Telah wisuda, tapi tak kunjung dapat kerja. Yang kita tahu hanyalah keluhan. Namun tidakkah kita tahu, bahwa Allah telah memberikan yang paling baik. Kenapa kita tidak kaya? Karena kita belum sanggup, karena kaya itu adalah beban. Kenapa IPK kita belum juga tinggi? Padahal sudah berusaha keras, karena kita belum sanggup, karena IPK itu adalah beban. Kenapa belum juga dapat kerja? Padahal sudah Sarjana, karena kita belum sanggup memikul beban tersebut. Sekarang kita coba fikir, jika Allah memberikan semua beban itu saat kita belum sanggup memikulnya? Kita belum sanggup jadi orang kaya, lalu diberi kekayaan, maka ujungnya akan serakah, ujungnya akan sombong. Kita belum sanggup menerima IPK tinggi, lalu diberi IPK tinggi, mungkin kita akan jadi sombong, lalu jadi malas belajar. Kenapa kita belum juga dikaruniai anak, anak itu cobaan, istri cantik itu cobaan, semuanya cobaan, kalau kita sanggup, maka Allah akan berikan beban itu. Maka bersyukurlah, karena Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita belum sanggup memikulnya.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghaabuun: 15)

Jadi syukurilah apapun yang terjadi pada hidup ini. Berbaiksangkalah kepada Allah. Kenapa Allah tidak memberitahukan apa yang akan terjadi di masa depan kepada kita? karena agar kita jadi orang yang barbaik-sangka, orang yang sabar atas setiap rangkaian proses yang belum Allah selesaikan, dan akhirnya kita tau bahwa setiap hal untuk kita, agar kita bersyukur.

Contoh lain lagi, Allah telah menetapkan di ujung jalan bahwa kita akan menjadi seorang pengusaha sukses. Namun rangkaian proses dan jalan cerita yang Allah siapkan menuju ujung jalan itu sangatlah susah, waktu kuliah sudah berusaha keras, IPK tidak juga kunjung tinggi, lalu dapat pembimbing skripsi yang killer, akhirnya tamat lama, terancam DO pula, lalu pada saat itu, berhakkah kita mengeluh, lalu berburuk sangka kepada Allah, bahwa Allah memberikan proses yang sangat buruk. Seharusnya kita bersyukur, bahwa Allah telah menyanggupkan kita atas beban yang ia berikan. Namun kita langsung men-judge Allah tidak adil, karena orang lain IPKnya tinggi, tamatnya cepat dan langsung dapat kerja. Namun kita pengangguran setelah Sarjana. Berhakkah kita langsung mengambil kesimpulan yang kurang baik dan tegesa-gesa atas setiap rangkaian proses yang Allah sendiri belum menyelesaikannya. Apakah kita pernah tau, saat kita tidak dapat kerja setelah Sarjana, kita malah membuka suatu usaha, lalu jadi pengusaha sukses. Tapi kita malah telah men-judge Allah dengan tergesa-gesa bahwa Allah tidak adil.

Kenapa kita tidak berbaik sangka saja terhadap apa yang telah Allah berikan?. Kita telah menonton film-film di TV dan membaca cerita-cerita di novel. Film dan cerita mana yang kita sukai?. Pasti cerita yang penuh lika-liku, cerita yang tidak tertebak akhirnya dan cerita yang jalan ceritanya tidak hanya hambar saja. Begitu pulalah hidup, cerita orang-orang yang berkesudahan bagus di akhirnya pasti mempunyai alur yang rumit dan akhir yang susah ditebak. Allah telah mengatakan dalam QS. Ad-Dhuha, bahwa akhir itu lebih baik daripada awal. Dan apakah kita selalu mendustakan nikmat Allah? Jadi nikmat mana lagi yang harus kita dustakan. Apakah dengan hal itu saja kita berhak tidak berbaik sangka kepada Allah.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” kalimat ini diulang sampai 31 kali. Jadi nikmat mana lagi sekarang yang telah kita dustakan?.

 

Oleh : Robby Jannatan (robbyjannatan{a}gmail.com)

Foto Oleh : Dio Try Ananda (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=798918386895329&set=pb.100003315250691.-2207520000.1470995562.&type=3&theater)

 

ESENSI SHALAT SEBAGAI PENOLONG

“Adeek….shalat dulu !, waktu shalatnya dah hampir habis tu”

“iya Maa…, tunggu bentar, lima menit lagi”

“ayo Deek…!, ntar dapat dosa trus masuk neraka lho”

“iya Ma, iya deh Ma, ni Adek shalat lagi Ma…”

 

Begitulah percakapan yang sering kita dengar sehari-hari, shalat seakan-akan menjadi beban dalam hidup. Kenapa demikian?, karena orang tua menanamkan doktrin kepada kita dari kecil, bahwa jika kita tidak shalat, kita akan dapat dosa dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Kita selalu menanamkan akibat dari suatu perbuatan ke dalam memori anak-anak, sehingga perbuatan tersebut menjadi berat. Kita selalu menanamkan doktrin bahwa jika tidak shalat akan mendapat dosa, sehingga perbuatan shalat itu sendiri menjadi berat untuk dilakukan. Apakah kita pernah menikmati shalat? Sehingga ketika kita shalat, kita tidak pernah ingin untuk menghentikannya, saking nikmatnya yang kita rasakan. Oleh sebab itu, Seharusnya kita menanamkan bahwa shalat itu adalah sebagai kebutuhan dan penolong kita, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan kita dengan cara berinteraksi dan bertemu dengan Pencipta. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-qur’an:

 

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

 

Allah SWT telah berfirman bahwa shalat adalah penolong bagi manusia, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan dengan jalan berinteraksi dengan Pencipta. Tapi apakah kita pernah menjadikan shalat sebagai penolong? pasti itu hanya dilakukan oleh ahli ibadah yang telah merasakan nikmatnya shalat dan esensi dari shalat itu sendiri. Lalu bagaimana dengan kita? Kita pasti merasakan shalat itu hanya sebagai beban, sehingga shalat itu menjadi sangat berat. Dan memang demikian, shalat sebagai penolong memang sungguh berat, telah dipaparkan dalam ayat di atas, namun ada pengecualiannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Apakah kita pernah mencapai khusyu’? dan tahukah kita seperti apa khusyu’ tersebut?. Ayat di atas kembali memaparkan bahwa, khusyu’ akan didapat oleh orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa ketika shalat dia sadar akan menemui tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.

Jika memang ingin khusyu’ ketika shalat, sadarilah bahwa kita sedang menemui Tuhan. Jika ingin menemui Tuhan, pakailah pakaian terbaik yang kita punya. Jangan memakai pakaian terbaik saat menemui Bos saja. Lalu bersihkanlah diri, sucikan dengan wudhu’ yang sempurna. Rasulullah pernah mengatakan bahwa, jika seseorang melakukan wudhu’ dengan sempurna, maka Allah tidak hanya menyucikan bagian tubuh yang terkena wudhu’ saja, melainkan menyucikan seluruh tubuhnya. Lalu bentangkanlah Sajadah terbaik yang telah ditaburi dengan harumnya minyak wangi. Karena minyak wangi adalah salah satu cara dalam metoda aroma terapi. Bukankah Rasul telah menjelaskan tuntunannya? Apakah pernah kita baca tuntunan tersebut? bagaimana whudu’ yang sempurna, bagimana tata cara shalat yang sempurna. Ingatlah, kita sedang menemui Allah, kita harus persiapkan diri kita sebaik mungkin untuk bertemu dengan-Nya.

Lalu khusyu’ itu adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Shalat adalah jalan kita kembali kepada Pencipta. Rasulullah pernah mengatakan bahwa shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang Muslim. Mi’raj adalah naiknya jiwa, naiknya jiwa kembali kepada pencipta. Shalat adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan bagi jiwa agar terlepas dari kungkungan diri yang fana, diri yang berasal dari tanah. Ketika orang-orang shalat dengan khusyu’ (bahwa dia yakin jika sedang kembali kepada Pencipta) maka seperti apapun keributan yang terjadi, dia tidak akan terganggu, karena pada saat itu jiwa sedang mi’raj. Niat dan konsentrasi shalat orang-orang yang sedang khusyu’ adalah seperti salah satu perlombaan tujuh belas agustusan. Lomba membawa kelereng dengan sendok, kemudian sendoknya digigit dengan gigi. Apakah kita pernah melakukan perlombaan itu? Pasti pernah. Ketika seseorang melakukan perlombaan tersebut, dia berusaha dengan fokus dan konsentrasi agar kelerengnya tidak jatuh dari sendok, walaupun dilakukan sambil berlari, ketika fokus dan konsentrasi kepada kelereng, apakah kita terganggu dengan teriakan orang-orang yang berusaha memberikan semangat, keributan orang-orang yang berteriak. Pasti kita akan menghiraukan mereka, karena kita sedang fokus agar kelereng tidak jatuh dari sendoknya. Seperti perumpamaan tersebutlah hendaknya kita mengerjakan Shalat.

Ketika salah seorang sahabat Nabi tertusuk oleh panah, beliau tidak sanggup menahan sakit ketika panah tersebut dicabut oleh sahabat lain. Karena saking sakitnya, beliau meminta agar panah itu dicabut ketika beliau shalat. Saat shalat telah didirikan, sahabat yang lain mencabut panah tersebut. Lalu apa yang terjadi, beliau tidak merasakan apa-apa, beliau tidak merasakan sakit. Karena jiwa beliau sedang mi’raj, lepas dari kungkungan tubuh yang fana.

Secara umum, esensi ibadah sebenarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Tuntunan-tuntunan yang di gariskan agama adalah untuk kebaikan diri dari manusia itu sendiri. Shalat dan ibadah secara umum adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan kepada jiwa agar lepas dari penjara keduniaan, agar lepas dari raga atau tubuh yang fana. Jiwa suka kebaikan dan hal yang bersifat kepada akhirat, karena akhirat adalah tempat kembali jiwa. Dan jiwa ingin selalu menemui jalan pulangnya, menuju Pencipta. Sedangkan tubuh atau jasad yang fana ini, diciptakan dari tanah, dan tanah adalah milik dunia. Tubuh suka kepada hal yang bersifat keduniaan. Oleh sebab itu, Rasulullah pernah mengatakan bahwa, musuh terbesar manusia itu adalah dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang dimaksud disini sebenarnya adalah tubuh yang fana. Jika kita selalu menuruti keduniaan dan nafsu, maka itu akan menghambat jalan jiwa, sehingga jiwa terkungkung dalam penjara tubuh. Nafsu di dalam bahasa arab berasal dari kata Nafs, yang berarti diri. Nafsu adalah kehendak diri, dan lawan terbesar kita adalah diri itu sendiri.

Jika seseorang melakukan shalat karena beban dan terpaksa, maka Rasulullah mengatakan bahwa kita hanya akan mendapatkan capek dan lelah semata, padahal shalat itu sendiri adalah sebagai penolong. Abu sangkan mengatakan bahwa shalat itu adalah meditasi dalam Islam, untuk apa kita mencari jalan meditasi lain, padahal agama kita telah mengajarkan cara meditasi terbaik, yaitu shalat, sebagai salah satu jalan menemui ketenangan dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, shalat manfaatnya adalah bagi manusia itu sendiri. Sekarang ambillah whudu’, luruskan niat dan fokuslah seperti seseorang yang sedang lomba membawa kelereng di dalam sendok, kenakanlah pakaian terbaik, bentangkan sajadah yang bersih, bukan sajadah yang sudah berbulan-bulan tidak dicuci, lalu bernafaslah dengan tenang dan teratur, rasakan dan jangan tergesa-gesa, karena tuma’ninah adalah tenang dan tidak tergesa-gesa. Setelah itu bacakanlah setiap do’a-do’a di dalam shalat. Kemudian sujudlah dengan tenang, karena jarak terdekat antara hamba dengan Tuhannya itu adalah ketika sujud. Lalu mintalah ampun ketika sujud itu, berdolah ketika sujud itu, karena ketika itu kita pada jarak terdekat dengan Allah. Kalau memang ingin mencapai kebahagiaan sejati dan ingin mendapatkan solusi dalam setiap permasalahan hidup. Maka sempurnakanlah shalat.

Rasulullah mengatakan bahwa, amalan yang pertama kali dihisab itu adalah shalat. Jika seseorang diterima shalatnya, maka amalan lainnya akan diterima. Allah akan menghisab shalat, jika shalatnya sempurna, maka ibadah lainnya juga akan sempurna. Shalat adalah pencegah manusia melakukan yang mungkar, sehingga orang yang sempurna shalatnya, mustahil melakukan sesuatu yang mungkar. Jika seseorang telah merasakan nikmatnya shalat dan merasakan bagaimana jiwa itu menemui jalannya menuju Pencipta, maka ia tidak akan melakukan hal yang mungkar yang menjadikan jalan jiwa untuk mi’raj menjadi terhalang. Sahabat ketika melihat Rasul shalat, mereka mengatakan bahwa, jika beliau sujud, maka seakan-akan tidak akan bangkit, ketika beliau ruku’, seakan-akan beliau tidak akan I’tidal karena saking lamanya. Beliau juga mengatakan bahwa pekerjaan yang paling ia sukai adalah shalat. Karena Beliau telah merasakan nikmatnya shalat dan mendapatkan kebahagiaan karenanya. Rasul pernah mengatakan kepada Bilal bahwa, “hai Bilal, jadikanlah shalat sebagai istirahatmu”.

Shalat adalah untuk manusia itu sendiri, penolong bagi manusia itu sendiri, maka sempurnakanlah shalat. Dan sampaikanlah kepada anak-anak bahwa shalat itu adalah sebagai penolong. jika mereka mendapat permasalahan, maka suruhlah mereka shalat dan mintalah pertolongan kepada Yang Maha Pemberi Pertolongan.

 

 

 

Oleh    : Robby Jannatan

e-mail : robbyjannatan@gmail.com*

 

*Jika terdapat kesalahan di dalam artikel ini, atau ada kritikan, saran dan ingin berdiskusi bisa disampaikan lewat email.