Catatan yang Patah

SELMA INDONESIANA; Gugurnya Ibu Pertiwi

Kobaran api dimana-mana, seluruh daun pohon yang hijau telah menguning dan layu, api melalap semuanya tanpa ampun, bak kucing mendapatkan ikan. Semuanya terjadi begitu saja, hanya dalam sekejap mata. Hutan tropis Sumatera telah mengepulkan asap hitam ke seluruh penjuru langit. Tak ada yang dapat dilakukan lagi. Rusa-rusa berlarian tak tentu arah, burung-burung terbang ketakutan, monyet, siamang, simpanse dan berbagai jenis kera lainnya tak dapat bergelantungan lagi untuk menyelamatkan diri. Hutan tropis sumatera menciptakan langit merah karena api, dengan kepulan asap hitam yang tebal, kemelut.

Dyani berlutut di atas tanah Sumatera, tanah terakhir yang tak berhasil dilindungi oleh para Selma, karena keserakahan manusia. Dia memangku dan mendekap Ibu pertiwi yang sekarat dengan lembut. Ibu pertiwi tak sanggup lagi menanggung semuanya, Ibu pertiwi telah lama sakit, dan sakit itu memuncak ketika bencana tsunami di Aceh, gempa di Sumatera Barat, kebakaran hutan di tanah Kalimantan dan kerusuhan di Poso. Sekarang sakitnya semakin menjadi-jadi sejak banjir di Pati, Jakarta, letusan gunung Sinabung, punahnya harimau bali dan jawa, serta harimau terakhir telah punah di tanah Sumatera.

“Dyani, kamu adalah Selma yang mempunyai keteguhan hati, berjiwa besar dan berhati kuat.” Ibu pertiwi berbicara dalam sekaratnya.

Dyani mengusap wajah ibu pertiwi dengan lembut. Bulir air mata itu telah menganak sungai di pipi Dyani, dadanya sesak, debar jantungnya sangat kencang menahan seluruh rasa bersalah karena tak bisa melindungi Ibu pertiwi dan tanah Sumatera. Semuanya telah dimulai sejak tenggelamnya sebagian pulau jawa dan menenggelamkan Jakarta. Lalu punahnya hewan-hewan karena konversi hutan tropis ke perkebunan sawit secara besar-besaran. Punahnya top predator, seperti harimau Bali, Jawa dan Sumatera.

“Dyani, inilah tanah terakhir yang tak dapat kita lindungi, api telah melalap semuanya, tak ada lagi hutan tropis Sumatera, tak ada lagi Harimau Sumatera, tak ada lagi burung Kuaw dan tak ada lagi Rafflesia.” Ibu pertiwi berucap dan tersenyum manis dalam sekaratnya.

“Ini bukan kesalahanmu Dyani, tanah ini selalu menghargai pengabdianmu selama ini. Dyani, ini adalah tanah terakhir kita, tanah Sumatera. Pergilah bergabung dengan Selma Indonesiana lainnya, lanjutkan hidupmu bersama mereka.” Ibu pertiwi kembali tersenyum manis, lalu bulir air mata menetes dari sudut pelupuk matanya.

“Dyani, tanah Indonesia telah jatuh.” Mata ibu pertiwi lalu terpejam untuk selamanya dan menyisakan seulas senyum untuk tanah ini, tanah Indonesia.

* * *

Seluruh Selma Indonesiana berkumpul dalam ruangan rahasia mengelilingi sebuah meja melingkar. Pimpinan Selma dari masing-masing pulau di Indonesia berkumpul dalam sebuah pertemuan darurat. Baluku dari tanah Kalimantan, Daksayini dari tanah Bali, Dyani dari tanah Sumatera, Haidar dari tanah Irian, Hamamah dari tanah Sulawesi, Hansa dari tanah Jawa, Harina dari tanah Maluku dan Hauda dari tanah Nusa Tenggara. Delapan Selma dari masing-masing penjuru tanah Indonesia berkumpul untuk membahas kelangsungan hidup tanah Indonesia dan sekaratnya Ibu Pertiwi.

Selma Indonesiana adalah makhluk pelindung tanah warisan Indonesia, mereka melindungi harta berharga itu dari keserakahan manusia. Mereka melindungi hutan tropis yang sekarang hanya tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera. Mereka melindungi fauna dan flora Indonesia.

Zaman dahulu kala para Selma telah tersebar di seluruh dunia untuk melindungi tanah mereka masing-masing beserta flora dan faunanya. Pada saat revolusi Industri di Eropa, Selma Eropa tak dapat lagi mempertahankan hutan Eropa, semua telah musnah, merekapun pergi ke tanah terdekat, Rusia. Hal yang sama juga terjadi, sekarang seluruh selma di dunia berkumpul di Brazil. Mencoba mempertahankan hutan tropis Amazon beserta flora dan fauna di dalamnya. Tak ada lagi harapan di tanah Indonesia, yang tersisa hanya Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera, hutan tropisnya juga akan digunduli dan dikonversi habis-habisan menjadi sebuah perkebunan, entah perkebunan apa. Beberapa Selma Indonesiana telah beralih ke Brazil untuk menyelamatkan diri dan membantu Selma lainnya dari seluruh penjuru dunia, mereka bersatu untuk mempertahankan hutan tropis terakhir di dunia, Amazon. Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang masih bertahan di Indonesia dari keserakahan manusia, dan itupun juga sudah di titik nadir.

“Baiklah, kita mulai pertemuan ini. Melihat kondisi hutan tropis Indonesia yang sekarat dan banyaknya flora dan fauna Indonesia yang telah punah, membuat populasi bangsa kita juga semakin berkurang. Agar kita tetap bisa memperpanjang hidup dan membantu Selma lainnya mempertahankan tanah mereka, saya menyarankan agar kita bermigrasi ke tanah Brazil. Hutan tropis Amazonlah yang masih bertahan sampai sekarang.” Haidar membuka pertemuan itu dan memulai pembicaraan.

“Saya kurang setuju dengan pendapat tuan, sekarang Ibu Pertiwi berada di Taman Nasional Kerinci Seblat sedang sekarat, dan itu merupakan hutan tropis terakhir Indonesia, kita tak mungkin meninggalkan Ibu Pertiwi di sana.”

“saya akan berjuang mati-matian agar tetap bertahan hidup di tanah ini, di tanah kelahiran saya, dan mempertahankan spesies saya agar tidak punah”. Dyani menyanggah saran Haidar untuk meninggalkan Indonesia dan Ibu pertiwi yang sekarat di tanah Sumatera.
Masing-masing Selma mempunyai satu spesies yang mereka wakili, jika spesies tersebut punah, maka dengan sendirinya Selma dari spesies itu juga akan sekarat dan mati. Oleh karena itu, para Selma berjuang mati-matian agar spesies yang mereka wakili dilindungi untuk tetap bertahan hidup. Seperti halnya Dyani dari tanah Sumatera, dia mewakili spesies rusa, maka Dyani harus melindungi rusa agar dia bisa terus hidup. Para Selma dapat mempertahankan hidupnya lebih lama lagi walaupun spesies yang mereka wakili telah punah, tapi mereka harus keluar dari tanah mereka masing-masing. Melakukan hal itu dapat mempertahankan hidup mereka sekitar setahun hingga dua tahun.

“Dyani, kami tidak akan melarangmu untuk tetap tinggal disini. Kamu mungkin masih mempunyai populasi rusa yang masih banyak yang dapat kau lindungi, dan kau dapat bertahan hidup lebih lama. Sedangkan kami, spesies yang kami lindungi hanya tinggal dua sampai lima ekor.” Baluku mencoba menerangkan lagi kepada Dyani.

“Dyani, saya mewakili beruang, sekarang jumlahnya hanya tinggal tiga Individu di Taman Nasional Kerinci seblat, jika saya bertahan di Tanah Sumatera, mungkin umur saya tidak akan lebih dari tiga bulan. Karena setiap sebulan sekali beruang akan mati diburu oleh manusia-manusia yang serakah. Oleh karena itu, lebih baik saya bermigrasi ke hutan tropis Amazon di Brazil, walaupun beruang telah punah di Sumatera kemungkinan saya masih bisa bertahan hidup sampai satu atau dua tahun di Brazil. Dalam umur yang singkat itu, saya bisa menghabiskan sisa hidup untuk mempertahankan hutan tropis terakhir di dunia, Amazon.” Baluku menambahkan lagi kata-katanya.

“kita memang harus bermigrasi, Indonesia akan jatuh, Indonesia tidak akan lagi mempunyai hutan tropis yang indah, flora dan fauna yang endemik, karena keserakahan dan keegoisan manusia. Manusia hanya memperhatikan diri mereka sendiri, mereka tak pernah memikirkan anak-anak mereka, cucu-cucu mereka yang akan hidup berdampingan dengan alam di masa depan, mereka hanya mewariskan keserakahan kepada keturunan mereka.” Harina dari Tanah maluku juga sependapat.
Selang beberapa saat setelah Harina berbicara, Hauda terjatuh dari kursi tempat ia duduk, Daksayini dengan cekatan langsung menangkapnya dengan lembut. Nafasnya sesak, keringat keluar dari tubuhnya yang lunglai, keringat itu lalu menguap. Matanya yang berkaca-kaca menatap Daksayini dengan penuh harap. Daksayini lalu mengusap dengan lembut wajah Hauda yang semakin memucat, Selma yang lain mengelilingi mereka.

“Ka…a..asuari terakhir telah dibunuh” Ucap Hauda yang tergagap dalam sekaratnya.
Hauda, Selma yang mewakili Kasuari dan melindungi burung tersebut dengan sepenuh jiwanya, telah gagal. Kasuari terakhir telah dibunuh oleh manusia. Mata Hauda lalu terpejam dengan pelan, nafas terakhirnya yang berhembus menyiratkan bahwa harapannya sebagai Selma telah pupus. Jasad Hauda sebagai Selma lalu menjadi butiran debu di dalam genggaman Daksayini, butiran debu itu lalu beterbangan dibawa angin yang berhembus, mengantarkan Hauda menyatu dengan alam, mengembalikannya ke pangkuan kasuari di Nirwana.

Semua mata tertegun melihatnya, setiap bulir air mata telah jatuh dari kelopak mata para Selma, rasa iba yang mendalam sangat mereka rasakan. Masing-masing Selma melihat Selma yang lainnya, peristiwa yang baru saja terjadi, juga akan terjadi pada mereka masing-masing, hanya menunggu punahnya spesies terakhir yang mereka wakili. Saat mereka keluar dari tanah Indonesia, mereka punya harapan hidup sekitar satu sampai dua tahun, Jika spesies yang mereka wakili telah punah. Itulah harapan terakhir mereka, di tanah Indonesia harapan telah menguap ke langit, pilu.

“Kasuari terakhir telah dibunuh, dan spesies itu sekarang telah punah, sebelum hal yang sama terjadi pada kita, kita harus bermigrasi sekarang juga ke hutan tropis Amazon !.” Hamamah berseru kepada seluruh Selma.

“iya !, kita harus pergi meninggalkan tanah ini sekarang !!” Haidar menegaskan.
Mereka bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan tanah Indonesia yang sudah tidak layak lagi untuk didiami, karena harapan di tanah ini telah sirna. Dyani hanya duduk diam memperhatikan saudara-saudara sebangsanya, ada banyak pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang tersisa dari Indonesia, tanah sekarang tempat Ibu Pertiwi berada dalam sekaratnya.

“baik, mari kita berangkat !.” Ucap Haidar kepada seluruh Selma.
Bangsa Selma Indonesiana yang tersisa hanya delapan Selma sekarang, mereka akan bermigrasi menuju hutan tropis terakhir di muka bumi, Amazon.

“tunggu…!” Ucap Dyani.

“saya tidak akan pergi ke hutan tropis Amazon, tapi saya akan pergi ke Taman Nasional Kerinci Seblat, mencari Ibu Pertiwi !.” Seluruh Selma menatapnya dengan keheranan.

“apakah kau serius? Kita tidak akan punya waktu menuju tanah Sumatera, jalannya begitu berbahaya, jika spesiesmu punah sebelum kau menemukan Ibu Pertiwi, maka matimu akan sisa-sia !.” ujar Daksayini.

“saya tetap akan pergi, saya tidak akan meninggalkan Ibu Pertiwi sendiri, saya akan mencarinya di Taman Nasional Kerinci Seblat. Jika nanti saya mati di tanah Sumatera, tidak apa-apa, karena saya juga dilahirkan disana. Saya akan mati di tanah kelahiran saya sendiri.” Dyani mengungkapkan isi hatinya.

“Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang tersisa di Indonesia, saya bertanggung jawab untuk melindunginya sampai hembusan nafas saya yang terakhir, sampai rusa terakhir terbunuh. Maaf, saya tidak dapat ikut bersama kalian” Dyani meminta maaf kepada para Selma karena tidak dapat bergabung bersama mereka menyelamatkan hutan tropis terakhir.

“Saya ikut bersama Dyani !” Hansa mengajukan diri untuk membantu Dyani.
Selma yang lain tercengang. Lalu waktu diam, sejenak, seperti terhenti, tak ada yang mampu berbicara, mereka mau mati demi Ibu Pertiwi yang sekarat karena keserakahan dan keegoisan manusia.

“Baiklah, Dyani dan Hansa menuju Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera. Saya, Baluku, Daksayini, Hamamah dan Harina menuju hutan tropis Amazon, di Brazil.” Haidar lalu memutuskan rombongan migrasi mereka menuju dua tempat.

“Sekarang kita berpisah disini, saya harap kalian bisa bertahan hidup lebih lama dan menemukan Ibu Pertiwi dengan cepat, semoga kita tidak mati sia-sia, semoga perjalanan kalian dimudahkan, selamat tinggal.”
Haidar mengucapkan salam perpisahannya, dan dibalas oleh Dyani. Dua rombongan itu berpisah, satu rombongan yang terdiri dari lima Selma menuju tanah Brazil dan dua Selma menuju Tanah Sumatera.

* * *

Dyani dan Hansa berjalan menelusuri Taman Nasional Kerinci Seblat yang sebagiannya telah tandus, karena manusia yang sedang giat mengonversi hutan menjadi sebuah perkebunan sawit yang luas. Sejauh mata memandang, Taman Nasional ini tidak lagi menyisakan hutan yang rimbun dan permai, tak ada lagi aliran air yang mengalir sesuai dengan ritme kicauan burung, yang ada hanya lahan gersang yang siap ditanami oleh salah satu spesies tumbuhan dari kelompok palmae. Rawa-rawa juga telah mengering, angsa-angsa mati mengenaskan dalam kering kerontangnya rawa. Hansa melihat bangkai itu dengan mata kepalanya sendiri, membuat nafasnya menjadi semakin sesak. Dia berharap masih ada angsa liar yang hidup di Taman Nasional ini, agar dia bisa bertahan hidup sebelum menemukan Ibu Pertiwi.

Bangkai-bangkai gajah berserakan dimana-mana, bangkai yang sudah tak bergading. Selama perjalanan itupun, Dyani dan Hansa melihat penebangan hutan menjadi-jadi. Taman Nasional hanya tinggal nama semata, atau hanya sebagai logo bagi pemerintah, agar para penguasa busuk itu tetap dibayar dalam perdagangan karbon. Disini tak ada lagi yang namanya pelestarian, yang ada hanya pemusnahan massal.

Hansa berjalan dengan gontai dan tertatih, nafasnya sesak. Ia merasakan dengan jiwanya, bahwa angsa terakhir masih bertahan hidup. Dari kejauhan ia melihat angsa itu dalam keadaan sekarat, tak jauh dari tempat mereka berada. Angsa itu menunggu ajal di dalam rawa yang kering kerontang, di antara saudara-saudaranya yang telah mati lebih dahulu. Hansa dapat merasakan, bahwa angsa itulah angsa terakhir yang tersisa di tanah Sumatera. Bersamaan dengan hal itu, seorang pemburu telah memperhatikan angsa sekarat ini sejak lama. Hanya sekali tembakan, pemburu itu dapat dengan mudah mengakhiri hidup angsa terakhir. Hansa hanya terpaku, menunggu sebutir peluru merenggut nyawa angsa terakhir tersebut, maka berakhir pulalah hidupnya sebagai Selma.
Dengan bidikan yang mantap.

“Tttiiiissskkk…” Peluru melesat dari selongsong senapan si pemburu.

“Jangaaaaaaaaaan……!!!” Teriak Hansa.
Hansa berlari menuju pemburu, tapi dia tak dapat melakukan apa-apa.
Hansa lalu tertegun mematung, dia terjatuh dan tertopang pada lututnya. Ia merasakan dingin dan kaku di seluruh tubuhnya, mukanya memucat, pasi. Hansa memandangi telapak tangannya, ujung-ujung jarinya telah berangsur menjadi debu, seperti yang di alami Hauda, debu itu dihembus angin, perlahan. Matanya lalu terpejam, seluruh tubuhnya menjadi debu, dihembus angin dan menyatu dengan alam, pulang ke pangkuan para angsa di Nirwana. Dyani menggapai-gapai tubuh itu, tubuh yang telah menjadi debu, lalu menghilang, pilu.
Dyani tersungkur di atas tanah harapannya, tanah Sumatera. Suatu saat gilirannya akan tiba, cepat atau lambat. Dia mencengkram tanah, lalu menggenggamnya dengan kuat. Pipinya tertempel ke bumi, tanah kelahirannya. Bulir air mata menganak sungai di pipinya, manusia sekarang hanya menyisakan kepunahan bagi bangsa mereka. Meninggalkan keturunan yang hanya mementingkan kepentingan ras mereka sendiri, ras manusia, anthroposentris. Senja menghantarkan matahari pulang ke pangkuannya, di tutupi asap tebal pembakaran hutan. Kilau senja kini kelabu, karena tertutup abu, kelu.

* * *

Pagi tadi Dyani menemukan Ibu Pertiwi yang sekarat dalam pangkuannya, Ibu Pertiwi telah memejamkan mata untuk selama-lamanya. Tak ada lagi yang tersisa, tanah terakhir telah jatuh. Indonesia telah jatuh, hanya dia Selma satu-satunya yang bertahan hidup. Mungkin sehari atau dua hari lagi dia akan bertemu dengan Hansa dan Hauda di Nirwana. Dyani melihat sekeliling, Taman Nasional Kerinci seblat telah gersang, kering kerontang. Tanah Sumatera, harapan terakhir para Selma telah jatuh.

Tidak genap hitungan hari, sesaat setelah Ibu Pertiwi pergi, tubuhnya juga dihembuskan angin. Tubuhnya menjadi debu, menjadi abu, mengantarkannya menyatu bersama alam, membawanya ketempat Hauda dan Hansa, tersenyum manis di Nirwana. Meninggalkan Indonesia yang gersang dan kering kerontang, meninggalkan zambrud khatulistiwa yang terbakar.

SELMA INDONESIANA the series.

Oleh : Robby Jannatan

E-mail: robbyjannatan{a}gmail.com