Month: September 2016

Cinta di Dalam Secangkir Kopi Bunga Merekah

Bulir air mata yang menetes itu telah menganak sungai di pipinya, semakin deras dan semakin menjadi-jadi, kelu. Selena mengusap perlahan bulir itu, bulir yang memang telah membasahi pipi manisnya yang bak bulan, membuat matanya menjadi begitu sembab. Dia terbaring di atas tempat tidur yang berantakan. Pintu dikunci rapat-rapat, penyesalan akhirnya datang, menyesaki dada, memacu detakan jantung dan mempercepat aliran derai air matanya. Selena tak pernah menyadari hal ini akan menjadi sesuatu yang akan begitu disesalinya, tak pernah fikiran itu sampai ke dalam sel-sel neuron di otaknya. Segala fikiran tentang sebuah kesalahan yang telah ia lakukan, telah tertutup oleh bayang-bayang semu seksualitas dan pergaulan bebas masa muda. Dia baru menyadari bahwa harta berharganya telah dirampas, kemuliaannya telah direnggut, semua itu baru ia sadari setelah seorang lelaki melamarnya. Apa lagi yang mesti ia persembahkan kepada bakal suaminya nanti, keistimewaan apa yang mesti ia hadiahkan, saat semuanya telah diambil dan direnggut oleh mantan pacarnya dulu. Bahwa, sekarang dia sudah tidak perawan lagi.

*                      *                      *

 

Selepas kuliah siang itu, Riordan mengejar Selena yang telah berlalu diantara kerumunan teman-temannya yang ribut membicarakan dosen yang begitu menyeramkan jika memberikan kuliah. Saat kuliah tadi, Riordan telah memperhatikan Selena lama dari bangku belakang, dia tak peduli seberapa menyeramkan dosen yang mengajarnya, matanya telah diracuni oleh kecantikan Selena yang bak bulan pada malam purnama. Otaknya kini telah teracuni, mungkin teracuni oleh cinta yang mengalir dalam aliran darahnya. Dia telah lama mengejar-ngejar Selena, dia juga telah memulai pendekatan secara persuasif sejak lama, berharap Selena mau memberikan sebelanga cinta untuknya, atau setidaknya sedikit membuka hati untuk cintanya.

“Selena…Selena !” Riordan memanggil Selena yang berlalu.

Selena menoleh ke belakang, lalu tersenyum dan menyapa Riordan yang berlari mengejarnya.

“ada apa Rio?”

Riordan lalu mengatur ritme nafasnya yang begitu sesak, mencoba menghilangkan sedikit grogi perlahan menyembul dari dalam dirinya.

“o ya, aku mau traktir kamu di kafe ‘begini adanya’ nanti sore, bisakah kamu datang ?”

“aku akan sangat bersedih jika kamu menolak ajakan ini”

Riordan melanjutkan ajakannya sambil tersenyum.

“Uhmmm…gimana ya? Rasanya aku ada jadwal sore ini”

Selenapun berlagak jual mahal, karena ia telah membaca keadaan ini dari awal.

“Pliiiiss….”

Riordan memohon dengan memajang tampang memelas.

“baiklah kalau begitu, aku usahakan ya”

Selena tersenyum dan berlalu meniggalkan Riordan dari hadapannya.

Riordan terdiam dan melonjak kegirangan, seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre.

Sore itu, di kafe tempat mereka berjanji, kafe ‘begini adanya’. Kafe yang menyajikan secangkir kopi yang membuat lidah orang yang mecicipinya menjadi sumringah. Kafe yang menjadi tempat pilihan Riordan sore itu, kafe yang menyediakan secangkir kopi yang akan menjadi saksi bisu sejarah cinta mereka, dengan beberapa keping biskuit dan daftar menu yang tersedia di atas meja. Riordan telah duduk manis di meja nomor sepuluh menunggu Selena sambil menyeruput kopi dihadapannya. Keterlambatan Selena memberikan waktu untuk Riordan mengumpulkan mentalnya yang terserak karena grogi akut yang telah ia derita jika berpas-pasan dengan Selena. Selena sekarang mungkin juga agak bingung memilih baju mana yang hendak ia pakai agar terlihat lebih anggun di hadapan Riordan.

“maaf, aku agak terlambat “

Selenapun datang dan langsung mengutarakan maafnya karena telah membuat Riordan menunggu agak lama.

Selena duduk berhadapan dengan Riordan, mereka lalu memulai pembicaraan biasa, setidaknya untuk menghilangkan tembok besar yang masih menghalangi mereka berdua ketika berbicara, dan mengumpulkan mental Riordan yang telah terserak. Perasaan cinta itu begitu menggebu-gebu, kadang mempercepat detakan jantungnya. Pembicaraan itupun masuk ke inti permasalahan, ketika tembok besar itu telah roboh dan ketika seluruh mental Riordan terkumpul menjadi satu kesatuan yang utuh.

“maukah kamu jadi bungaku? Dan akupun jadi kumbangmu”

Kata-kata itu akhirnya terlontarkan dari mulutnya, dengan gaya bahasa agak menggombal terkesan agar terlihat romantis, Riordan mengutarakan isi hatinya.

Selena tertunduk, memperhatikan biskuit yang dari tadi tersenyum kepadanya. Riordan terdiam, mati gaya, karena Selena juga terdiam lama tak menyahut apa-apa. Setelah beberapa saat, Selena menatap Riordan, semburat merah muncul dari pipinya. Selena lalu menunduk dan mengangguk malu, sebagai tanda bahwa itulah jawaban dari pertanyaan yang diajukan Riordan. Riordan juga terdiam, rasa bahagia yang tertahan, apalagi melihat wajah Selena bak bulan di malam purnama yang bertambah terang, tapi tak menyilaukan.

Sejak sore itulah, kisah cinta mereka mulai ditulis, hangatnya cinta masa muda yang begitu menyelimuti. Di kafe ‘begini adanya’, disaksikan secangkir kopi hangat yang tersenyum, bahwa cinta itu merekah disana, di dalam gigitan kepingan biskuit yang menemani hangatnya sore mereka, sambil menanti bulan yang menyembul dari horizon langit. Cerita cinta itupun berlanjut.

 

*                      *                      *

 

Sekarang, cerita cinta itu terus ditulis, kisah mereka telah berlalu selama empat bulan. Hangatnya cinta yang menggebu-gebu diantara keduanya masih lekat terasa. Rasa takut kehilangan itu begitu kuat, bahwa Selena tidak ingin kehilangan jantung hatinya, begitupun Riordan, tak ingin jauh dari urat nadinya. Setiap hari, selalu ingin bersama, tak ingin berpisah. Rasa yang meluap-luap itu begitu hambar terasa ketika tidak diungkapkan dengan sebuah sentuhan atau semacamnya.

Hari itu begitu banyak orang di jalanan, karena rasa takut kehilangan dan rasa ingin melindungi Selena, maka Riordan memberanikan diri untuk menggandeng tangan Selena. Pertama ada rasa gugup di dalam hatinya, tapi tangan Selena semakin erat menggenggam tangan Riordan. Gugup mulai menguap dibawa angin, mereka saling merasakan nyaman, tak peduli apapun yang terjadi, genggaman tangan itu tak akan dilepas. Orang-orang dijalanan terasa beterbangan, lalu memasuki awan, dan tak terlihat. Jalanan menjadi kosong lalu sepi, yang ada hanya mereka berdua, tak ada siapa-siapa, hanya mereka berdua di atas dunia, begitulah dimabuk cinta.

Hari-hari terasa berbunga-bunga, setiap hari satu bunga akan bermekaran, dan bunga yang lain akan bermekaran di hari berikutnya. Begitulah perasaan seorang yang di mabuk cinta, fikirannya akan diracuni, neuron-neuron di kepalanya akan dipenuhi oleh bunga-bunga. Cinta itu adalah ketergantungan, seperti seseorang ketergantungan dengan morfin, kokain atau zat-zat semacamnya, begitu jugalah cinta yang diungkapkan dengan sentuhan. Saat dirasakan satu kali, maka akan semakin besar keinginan untuk kali kedua, lalu akan ketergantungan, selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Semakin besar keinginan untuk merasakan lebih dalam, maka semakin besar pula ketergantungan akan hal itu timbul. Riordan menggandeng tangan Selena dengan erat, begitu hangat yang ia rasakan, semakin dalam ia mencoba merasa, maka semakin tenang yang ia rasa, karena cinta juga menenangkan. Genggaman itu terasa sangat bermakna bagi Riordan dan Selena, walaupun hanya sebentar, tapi kedalaman yang mereka rasa sangat bermakna. Ada keinginan untuk tetap menggandeng tangannya, mungkin di lain waktu, atau di lain kesempatan, yang pas.

Rasa rindu akan hal itu saking dalam terasa, seperti sakau dengan kokain. Setiap ada kesempatan mereka pergi bersama atau setiap mengunjungi kafe ‘begini adanya’ menikmati sajian kopi ‘bunga merekah’ yang merupakan saksi bisu cerita cinta mereka, Riordan slalu menggandeng tangan Selena, menggenggamnya erat. Kemanapun mereka pergi, tangan mereka selalu tersilang, hingga hal itu menjadi sebuah kebiasaan, dan mereka terbiasa, dan rasa rindu akan genggaman tangan itu juga jadi hal biasa. Setiap hal pasti selalu ada peningkatan, seperti menikmati kokain di dosis yang rendah, lalu dosis itu menjadi hal yang biasa karena telah terbiasa dan tak menantang lagi, maka dosisnya akan ditambah menjadi lebih tinggi, hingga tinggi, hingga overdosis, dan mati dengan mulut berbusa. Saat menggenggam tangan menjadi hal yang biasa, maka timbul keinginan untuk hal lain, seperti mengecup atau sekedar memeluknya atau hal lain yang masih satu dosis dengan hal itu.

Malam itu mereka menikmati kopi ‘bunga merekah’ di kafe ‘begini adanya’, ditemani sebatang lilin, secangkir kopi dan beberapa keping biskuit. Mereka begitu menikmati malam itu, dari jendela kaca mereka bisa melihat ke arah langit saat purnama bersinar. Cahaya purnama menembus jendela kaca yang membuat temaram cahaya lilin semakin menyentuh di kedalaman rasa mereka. Mereka berbincang-bincang sepuasnya, tertawa, dan saling tersenyum satu sama lain. Tangan Selena menggapai di atas meja, tangan Riordan juga tergerak untuk hal serupa, tangan mereka menggapai di atas meja, lalu bertemu, saling menggenggam erat, mengalahkan dinginnya malam itu. Malam itu disaksikan sebatang lilin dan seulas cahayanya, secangkir kopi yang selalu merekah, Riordan mengecup kening Selena. Temaram bulanpun malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Secangkir kopi selalu menjadi saksi cerita cinta mereka. Entah cerita seperti apa.

Hujan deras mengguyur kota kecil mereka, rumah Selena semakin gelap karena sebuah pohon besar tumbang menimpa tiang listrik dan memadamkan listrik sebagian kota. Selena ketakutan saat hujan dan petir menyambar-nyambar sekaligus, saat listrik padam dan malam juga akan datang menyapa.

“Riordan, aku takut”

Kata selena dari telepon genggam, dia menelepon Riordan di dalam ketakutannya.

“kamu dimana sayang? Kamu baik-baik sajakah?”

“aku di rumah, aku sendirian, aku takut rio…orangtuaku ke luar kota selama tiga hari”

“tunggu aku disana, aku akan kerumahmu sekarang”

“cepat ya, disini listriknya padam, hujannya begitu deras dan petir yang menyambar juga semakin menjadi-jadi”

“iya sayang, aku akan kesana secepatnya”

Lalu telepon genggam itupun mati seiring malam berjalan menunggu kehadiran Riordan di kediaman Selena.

Riordan telah sampai di sana, di sebuah rumah yang mungil dan gelap karena listrik yang padam. Hujan mengguyur begitu derasanya, di sana hanya ada mereka berdua. Selena telah membuatkan Riordan kopi, lebih hangat dan lezat mungkin dari kopi ‘bunga merekah’ di kafe ‘begini adanya’. Riordan agak kaku dan duduk di atas sofa ruang tamu Selena, yang biasanya dia ditemani orang tua selena, tapi sekarang mereka hanya berdua, tak ada siapa-siapa. Riordan memulai sebuah pembicaraan untuk mencairkan suasana hati Selena yang masih ketakutan ditinggal sendiri, sekalian untuk menghilangkan kakunya. Seiring malam berlalu, mereka lupa waktu. Cerita demi cerita berlanjut, tak ada yang tau, mereka hanya berdua, saling cerita dan bercanda.

“Maaf Selena, malam telah larut, aku harus pulang, hujan juga sudah reda”

Riordan berniat pamit pulang sambil melirik jam tangannya yang telah menunjukkan jam sembilan malam. Riordan bangkit dari sofa tempat dia duduk dan melangkah menuju pintu untuk bergegas pulang.

Riordan melangkah menuju pintu dan memegang gagang pintu untuk pamit, tapi dari belakang Selena memegang tangan kiri Riordan dan menahannya.

“disini saja malam ini, aku sendirian, aku takut” kata Selena.

Riordan lalu membalikkan badan, selena telah menahannya. Selena mengunci pintu, memandang Riordan. Riordan juga memandang Selena di kedalaman matanya, tangannya mengusap rambut Selena dan membelainya. Selena lalu melingkarkan tangannya di pinggang Riordan, Riordan mengusap pipi Selena. Riordan memeluk dan mengecupnya. Seperti kokain, saat dosis yang lama telah terbiasa dan terasa tak meyenangkan lagi, maka dosisnya akan semakin tinggi dan semakin ditingkatkan, rasa dan efeknya juga akan terasa lebih maksimal di tubuh. Semua itupun terjadi, saat Riordan dan Selena tak lagi dapat menahan diri, saat nafsu dan seksualitas diatasnamakan dengan cinta. Semua terjadi di malam itu, listrik yang padam dan ditemani lilin temaram dengan cahaya redup. Biarlah kopi buatan Selena yang menjadi saksi bisu di malam itu.

Hari-hari berikutnya menjadi hari-hari biasa, tak ada lagi cinta, yang tersisa hanya hasrat, hasrat seksualitas yang semakin haus dan semakin merindu. Seperti tubuh yang rindu kokain, yang memberikan kenikmatan, memberikan dunia, memberikan segalanya dalam hidup, walau hanya sementara.

“Rio…ke rumah nanti malam ya, orang tuaku ke luar kota”

“oke..tunggu aku di rumahmu ya, aku akan menberikan dunia padamu malam ini”

Lalu pembicaraan ditelfon itu ditutup dengan sedikit kecupan manja dan menggoda. Setiap momen ketika kesempatan itu ada, maka itu terjadi. Setiap orang tua Selena ke luar kota, kopi buatan selena selalu menjadi saksi temaram malam dan seksualitas masa muda mereka, dihiasi oleh hasrat dan kenikmatan dunia yang sementara.

Sekarang, semuanya telah berbeda. Mereka bertemu hanya untuk seks, mereka membuat janji hanya untuk hasrat dunia dan melepaskan hausnya tubuh mereka satu sama lain. Tak ada lagi cinta, yang ada hanya hasrat dan nafsu. Cinta yang menggebu dulu itupun telah sirna, tak ada lagi saling melindungi, saling memahami, saling melengkapi dan saling memuliakan. Sekarang yang ada hanya seks, hasrat, dunia, viagra dan kenikmatan sesaat. Mereka bertemu untuk itu, tak ada alasan lain mereka untuk bertemu. Alasan mereka bertemu hanya seks dan kenikmatan dunia sementara, yang terpenting adalah rasa haus dan kerinduan mereka terpenuhi. Tak ada masa depan, tak ada cinta yang memuliakan, tak ada lagi bunga-bunga bermekaran di dalam fikiran dan perasaan mereka, yang ada hanya kesenangan detik dan menit itu.

Hubungan mereka sekarang hanya seks, seks dan seks sampai akhirnya mereka pada suatu titik, titik jenuh dan kebosanan. Saat rasa akan seks dan hanya seks telah sampai pada sebuah titik puncak, maka timbulah sebuah rasa bosan dan titik jenuh. Saat jemarinya telah menghafal tubuh Selena, tak ada lagi sensasi, tak ada lagi rindu, dan tinggallah bosan serta sebuah ruang kosong yang hampa di dalam hati mereka. Pada saat itu muncullah keinginan untuk mencari kerinduan yang lain, hati yang kosong dan hampa itu mengiginkan belai kasih dan sayang serta cinta, bukan hanya nafsu semata. Berujunglah semua hal itu dengan sebuah perselingkuhan.

*                      *                      *

 

Riordan dan Selena duduk di tempat biasa dan di meja yang biasa mereka tempati. Keadaan sekarang ini agak sembrawut, kopi ‘bunga merekah’ kini agak layu di meja nomor 10. Kafe ‘begini adanya’ agak beraura menyeramkan bagi mereka.

“kamu selingkuh ya sama perempuan lain…?!!!”

Suara Selena agak meninggi.

“Mana mungkin aku selingkuh, cuma kamu satu-satunya cintaku, Selena”

Riordan melunakkan suaranya dengan nada agak merayu .

“kamu pembohong…!”

Suara Selena semakin meninggi dengan nada membentak. Selena lalu menyodorkan telepon genggamnya ke arah Riordan, di sana terdapat sebuah foto Riordan yang berciuman dengan perempuan lain.

“kamu hidung belang…!!!”

Selena menghentak meja, Riordan terhenyak, dia terdiam dan tak dapat berkata-kata. Semua orang di kafe tersebut memperhatikan mereka.

“kamu tidak lagi mencintaiku, tidak pernah memperhatikanku…”

Dengan wajah tenang Riordan membela diri.

“kamu kira aku tidak mengetahuinya, kemarin sore kamu pergi dengan seorang lelaki dengan rambut sebahu, lalu minggu sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya lagi”

Riordan menyampaikan semua yang ia ketahui dengan tenang, walaupun dia mempunyai sebuah kesalahan, dia juga mempunyai amunisi untuk menjatuhkan Selena.

“saya rasa hubungan kita ini tak layak lagi dipertahankan, sebaiknya mulai sekarang kita jalan masing-masing saja”. Riordan menyampaikan sebuah usul.

“Baik…!!!, mulai hari ini kita putus !!!” bentak Selena sambil menghentak meja dengan kedua tangannya. Semua kembali memperhatikan mereka di kafe tersebut. Selena mengambil cangkir kopi ‘bunga merekahnya’ dan menyiram Riordan.

“kamu memang bajingan…!!!”. Bentak Selena.

Selena lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Riordan yang menggerutu karena basah oleh kopi dan menanggung malu diperhatikan orang-orang. Pemilik kafe menyadari dia akan kehilangan dua orang pelanggan setianya yang selalu mampir di kafenya setiap akhir pekan. Selena berjalan menjauh, bulir air mata jatuh di pipinya, cinta telah menguap bersama awan dan telah terserak ketika ia menumpahkan kopi ‘bunga merekahnya’. Kopi itu menjadi saksi bisu awal dan akhir kisah cintanya di kafe ‘begini adanya’.

 

*                      *                      *

 

Setahun kemudian, seorang lelaki tampan dengan perawakan tinggi dan mempunyai bahu yang bidang datang kerumahnya. Lelaki yang dulu ia kenal waktu Sekolah Dasar, lelaki yang dulu culun sekarang sudah begitu tampan dan gentle, dia sekarang sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, lelaki yang dulu pernah ia tertawakan bersama anak perempuan lain di Sekolah karena keculunannya, tapi sekarang dia begitu gagah, tampan dan mapan. Lelaki itu datang kerumah Selena, bertemu dengan orang tua Selena dan menyampaikan maksud kedatangannya bersama kedua orangtuanya, untuk melamar Selena.

Selena memperhatikan tamunya tersebut dari balik pintu, setidaknya dia dapat mendengarkan apa yang mereka perbincangkan.

“Saya berjanji akan mencintai, merawat, melindungi dan memuliakan Selena seumur hidup saya, Pak”.

Begitulah sedikit dari kata-kata yang didengar Selena dari balik pintu. Pikirannya kemudian melayang setahun yang lalu, saat pergaulan masa mudanya ia habiskan bersama Riordan, lelaki yang hanya mempermainkannya, menikmati keindahannya tanpa mau mempertanggungjawabkannya, dia kadang juga mudah tergoda dan kadang menginginkannya pula.

Selena melompat ke atas tempat tidur, harta berharganya telah dirampas, tak ada lagi yang tersisa, kehormatan dan kemuliaannya telah direnggut, apa lagi yang mesti dia persembahkan kepada bakal suaminya nanti, harta apa lagi yang bisa ia berikan saat harta itu telah dirampas dan dinikmati oleh mantan pacarnya dulu. Penyesalan itu datang merambati urat nadinya, masuk mendebarkan jantungnya lebih cepat, dan menyesaki dadanya. Bulir air mata itu jatuh dari kelopak matanya, kini ia hanya perempuan biasa, tak lagi istimewa, dia malu pada dirinya sendiri, tak ada yang spesial, hanya bekas tangan mantan pacarnya yang kini telah melekat di tubuhnya.

Cerita cinta itu tersimpan baik dalam kenangan secangkir kopi ‘bunga merekah’ yang ditemani beberapa keping biskuit. Cerita cinta itu terhimpun dalam kopi di dalam cangkir ‘bunga merekah’ bersama kisah-kisah cinta lainnya yang pernah singgah di kafe itu, kafe ‘begini adanya’. Kadang terserak dan kadang menguap dibawa awan.

 

*                      *                      *

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur:3)”