Month: August 2016

Menjadi Perempuan

“Hai fulan, apa merk celanamu waktu di dunia?” Tanya seorang Malaikat.
“Merk celanaku adalah ini dan ini, wahai Malaikat” Jawab si Fulan, seorang wanita yang sedang disidang oleh Malaikat di dalam kuburnya.
“Lalu apa merk bajumu waktu di dunia?” Malaikat melanjutkan.
“Merk bajuku adalah ini dan ini, wahai Malaikat” Sambung si wanita.

Apakah kamu menyangka malaikat akan menanyakan seperti hal di atas ketika kamu berada di dalam kubur?. Atau menanyakan apa-apa saja merk-merk baju dan celana yang kamu kenakan ketika hidup di dunia?. Tidak, sungguh tidak demikian. Malaikat hanya akan meminta pertanggungjawabanmu kenapa kamu menimbulkan dosa dari baju dan celana yang ber-merk tersebut.

Malaikat akan meminta jawabanmu. Kenapa kamu mengenakan jins yang kamu banggakan merk dan modelnya, sedangkan jins tersebut mencetak lekuk tubuhmu, me-reka pinggulmu, memperlihatkan jenjang kakimu, jins ketat tersebut, kamu kenakan untuk memperlihatkan semuanya secara blak-blakan kepada semua orang. Kamu kemudian mengenakan baju yang ketat, mencetak pinggangmu, berharap orang tau, bahwa kamu tidak mempunyai gelambir-gelambir lemak di pinggangmu, bahwa kamu adalah orang yang paling seksi dari sekian banyak wanita. Bahwa kamu adalah cantik dimata orang-orang.

Kemudian kamu geraikan rambutmu, bahwa rambutmu adalah rambut paling indah di dunia. Dengan rambut yang kamu geraikan, terlihatlah lehermu yang jenjang. Sewaktu kamu keluar rumah dengan menjajakan lekuk tubuh dan rambut yang tergerai indah itu. Kamu telah menjajakan dosa, dan suatu saat kamu akan dimintakan pertanggungjawaban atas dosa yang telah kamu jajakan.

Mungkin sekarang kamu masih gadis belia, yang merasa bebas, bahwa semua itu adalah hak-mu. Keluar rumah dengan memakai pakaian yang tidak sepantasnya, pakaian yang mencetak tubuhmu. Secara tidak langsung kamu telah membiarkan setiap lelaki untuk melihat dan menikmatinya. Lalu, saat kamu menikah, apa yang akan kamu hadiahkan untuk suamimu, apakah lekuk tubuh yang semua lelaki telah melihatnya, lalu dengan itu kamu mengira kamu masih spesial? Spesial karena kamu milik suamimu satu-satunya.

Saat gadis masih belia, kamu persembahkan tanganmu untuk digenggam oleh laki-laki yang belum tentu dia suamimu, yang seharusnya telah halal menggenggammu. Setelah kamu menikah, kamu hadiahkan genggaman itu untuk suamimu, padahal genggaman tersebut telah kamu hadiahkan untuk lelaki lain sebelumnya. Kamu hadiahkan pelukan itu untuk suamimu, padahal pelukan tersebut telah kamu hadiahkan untuk lelaki lain sebelumnya, dan hal lainnya yang tak pernah kita tahu, lalu kamu katakan bahwa kamu itu spesial bagi suamimu. Bukankah perempuan yang baik itu adalah untuk laki-laki yang baik, dan perempuan penebar dosa itu adalah untuk laki-laki yang penebar dosa.

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur:3)

Sekarang kita lihat, betapa banyaknya perempuan yang berusaha hijrah dan berusaha menjadi lebih baik ketika mereka telah menikah, dengan dalih karena ingin menghormati dan mencintai suami, karena ingin membina hidup yang sakinah dengan keluarganya, agar dirahmati Allah. Hai….apakah kamu lupa? sebelum bersuami kamu hidup dengan siapa? siapa yang menanggung dosa-dosamu?. Tidakkah kamu sadar bahwa sebelum tanggung jawab terhadap kamu jatuh kepada suamimu, tanggung jawab itu berada pada ayahmu, tanggung jawab itu berada pada kakak laki-lakimu. Setelah menikah kamu tidak ingin membuat suamimu berdosa, namun sebelum menikah, dengan kamu mengenakan pakaian yang mencetak tubuhmu itu, tidak menutup auratmu ketika keluar rumah, apakah ayahmu tidak menanggung dosamu tersebut?. Lalu apakah kamu tidak mencintai ayah dan kakak laki-lakimu juga?.

Ada tiga orang laki-laki yang akan dibawa oleh wanita ke neraka, yang pertama adalah ayahnya, karena tidak pandai mendidik anak perempuannya, yang kedua adalah kakak laki-lakinya karena tidak pandai mendidik adik perempuannya, yang ketiga adalah suami yang tidak pandai mendidik istrinya. Apakah sebagai perempuan, kamu mau menjerumuskan ke neraka orang-orang yang begitu mencintaimu tersebut?.

Kamu sangat sering melihat setiap barang bernilai tinggi di etalase toko, terbungkus rapi. Apakah kamu tak ingin seperti mereka, atau kamu hanya ingin jadi seperti sebuah barang yang dijual di kaki lima, di lihat-lihat pembeli, dipegang, diusap, apakah barang bagus atau tidak, jika mereka tak menyukaimu, mereka akan pergi, lalu menunggu pembeli lain yang mau membelimu. Sebuah barang yang sama dengan merk yang sama, yang satu dijual di sebuah toko kaki lima, yang semua calon pembeli boleh menyentuhnya, dan satu yang lainnya dijual disebuah toko mewah, diletakkan di etalase yang disinari lampu neon, terbungkus rapi, dan tak ada pembeli yang boleh menyentuhnya. Menurutmu harga mana yang lebih tinggi. Nilai barang mana yang lebih berharga. Kamu akan tau sendiri.

Jadilah perempuan seutuhnya, jadilah perempuan yang memberikan hak itu kepada orang yang berhak. Cantik bukanlah sesuatu yang kamu pamerkan diluar, tapi sebuah pesona yang kamu bentuk di dalam, dan datang dari dalam. Cantik bukanlah sebuah kemolekan tubuh atau keindahan wajah, cantik adalah sebuah keistimewaan yang kamu jaga baik-baik, agar bernilai tinggi dan begitu spesial. Cantik bukanlah rambut yang kamu geraikan, atau lekuk tubuh yang kamu cetak dengan baju ketat, atau pinggul yang kamu reka dengan jins sempit dan rok mini. Cantik bukanlah fisik yang dipamerkan dengan menor, tapi sesuatu yang kamu jaga dengan baik di dalam, agar kamu spesial – istimewa. Cantik adalah rambut yang kamu tutup dengan hijab, lekuk tubuh yang kamu jaga dengan baju yang longgar, cetak pinggul dan betis yang kamu selimuti bukan dengan jins sempit atau rok mini.

Cantik adalah sesuatu yang kamu jaga untuk kamu hadiahkan kepada seseorang yang benar-benar merindukanmu dan dia mau mempertanggungjawabkanmu di dunia dan di akhirat – agar kamu istimewa di matanya, karena kamu pasti tidak akan mau memberikan sesuatu kepada seseorang yang tulus mencintaimu nanti, tapi sesuatu itu telah kamu berikan kepada orang lain sebelumnya, atau sesuatu yang telah banyak orang melihat dan menikmatinya. Istimewa adalah dirimu yang kamu jaga dengan baik, kamu tutup dengan baik, dan sesuatu yang kamu bungkus dengan rapi, itulah yang akan memberikanmu kecantikan, kecantikan dari dalam, kecantikan yang bernilai tinggi, kecantikan yang terbungkus rapi, bukan kecantikan yang sengaja dibuat-buat.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)

Longgarkanlah pakaianmu, ulurkanlah hijabmu hingga menutupi dada, jangan biarkan jins sempit mencetak pinggulmu, istimewakanlah dirimu. Jagalah hangat tanganmu untuk menggenggam tangan yang berjuang untukmu – tangan yang mencari nafkah untuk kehidupan kalian. Jadikanlah dirimu sebagai seorang perempuan yang disisikan oleh Tuhan dan Malaikat lebih mulia dari bidadari, atau setidaknya sebagai seorang perempuan yang disetarakan oleh Tuhan sama dengan bidadari-bidadari yang dirindukan oleh para syuhada’. Janganlah pernah meminta seseorang sesempurna Muhammad jika kamu belum mampu semulia Khadijah, jangan pernah meminta lelaki terbaik di dunia, kalau kamu bukan perempuan terbaik di dunia.

IMG_942222

Oleh : Robby Jannatan

E-mail : robbyjannatan{a}gmail.com

SELMA INDONESIANA; Gugurnya Ibu Pertiwi

Kobaran api dimana-mana, seluruh daun pohon yang hijau telah menguning dan layu, api melalap semuanya tanpa ampun, bak kucing mendapatkan ikan. Semuanya terjadi begitu saja, hanya dalam sekejap mata. Hutan tropis Sumatera telah mengepulkan asap hitam ke seluruh penjuru langit. Tak ada yang dapat dilakukan lagi. Rusa-rusa berlarian tak tentu arah, burung-burung terbang ketakutan, monyet, siamang, simpanse dan berbagai jenis kera lainnya tak dapat bergelantungan lagi untuk menyelamatkan diri. Hutan tropis sumatera menciptakan langit merah karena api, dengan kepulan asap hitam yang tebal, kemelut.

Dyani berlutut di atas tanah Sumatera, tanah terakhir yang tak berhasil dilindungi oleh para Selma, karena keserakahan manusia. Dia memangku dan mendekap Ibu pertiwi yang sekarat dengan lembut. Ibu pertiwi tak sanggup lagi menanggung semuanya, Ibu pertiwi telah lama sakit, dan sakit itu memuncak ketika bencana tsunami di Aceh, gempa di Sumatera Barat, kebakaran hutan di tanah Kalimantan dan kerusuhan di Poso. Sekarang sakitnya semakin menjadi-jadi sejak banjir di Pati, Jakarta, letusan gunung Sinabung, punahnya harimau bali dan jawa, serta harimau terakhir telah punah di tanah Sumatera.

“Dyani, kamu adalah Selma yang mempunyai keteguhan hati, berjiwa besar dan berhati kuat.” Ibu pertiwi berbicara dalam sekaratnya.

Dyani mengusap wajah ibu pertiwi dengan lembut. Bulir air mata itu telah menganak sungai di pipi Dyani, dadanya sesak, debar jantungnya sangat kencang menahan seluruh rasa bersalah karena tak bisa melindungi Ibu pertiwi dan tanah Sumatera. Semuanya telah dimulai sejak tenggelamnya sebagian pulau jawa dan menenggelamkan Jakarta. Lalu punahnya hewan-hewan karena konversi hutan tropis ke perkebunan sawit secara besar-besaran. Punahnya top predator, seperti harimau Bali, Jawa dan Sumatera.

“Dyani, inilah tanah terakhir yang tak dapat kita lindungi, api telah melalap semuanya, tak ada lagi hutan tropis Sumatera, tak ada lagi Harimau Sumatera, tak ada lagi burung Kuaw dan tak ada lagi Rafflesia.” Ibu pertiwi berucap dan tersenyum manis dalam sekaratnya.

“Ini bukan kesalahanmu Dyani, tanah ini selalu menghargai pengabdianmu selama ini. Dyani, ini adalah tanah terakhir kita, tanah Sumatera. Pergilah bergabung dengan Selma Indonesiana lainnya, lanjutkan hidupmu bersama mereka.” Ibu pertiwi kembali tersenyum manis, lalu bulir air mata menetes dari sudut pelupuk matanya.

“Dyani, tanah Indonesia telah jatuh.” Mata ibu pertiwi lalu terpejam untuk selamanya dan menyisakan seulas senyum untuk tanah ini, tanah Indonesia.

* * *

Seluruh Selma Indonesiana berkumpul dalam ruangan rahasia mengelilingi sebuah meja melingkar. Pimpinan Selma dari masing-masing pulau di Indonesia berkumpul dalam sebuah pertemuan darurat. Baluku dari tanah Kalimantan, Daksayini dari tanah Bali, Dyani dari tanah Sumatera, Haidar dari tanah Irian, Hamamah dari tanah Sulawesi, Hansa dari tanah Jawa, Harina dari tanah Maluku dan Hauda dari tanah Nusa Tenggara. Delapan Selma dari masing-masing penjuru tanah Indonesia berkumpul untuk membahas kelangsungan hidup tanah Indonesia dan sekaratnya Ibu Pertiwi.

Selma Indonesiana adalah makhluk pelindung tanah warisan Indonesia, mereka melindungi harta berharga itu dari keserakahan manusia. Mereka melindungi hutan tropis yang sekarang hanya tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera. Mereka melindungi fauna dan flora Indonesia.

Zaman dahulu kala para Selma telah tersebar di seluruh dunia untuk melindungi tanah mereka masing-masing beserta flora dan faunanya. Pada saat revolusi Industri di Eropa, Selma Eropa tak dapat lagi mempertahankan hutan Eropa, semua telah musnah, merekapun pergi ke tanah terdekat, Rusia. Hal yang sama juga terjadi, sekarang seluruh selma di dunia berkumpul di Brazil. Mencoba mempertahankan hutan tropis Amazon beserta flora dan fauna di dalamnya. Tak ada lagi harapan di tanah Indonesia, yang tersisa hanya Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera, hutan tropisnya juga akan digunduli dan dikonversi habis-habisan menjadi sebuah perkebunan, entah perkebunan apa. Beberapa Selma Indonesiana telah beralih ke Brazil untuk menyelamatkan diri dan membantu Selma lainnya dari seluruh penjuru dunia, mereka bersatu untuk mempertahankan hutan tropis terakhir di dunia, Amazon. Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang masih bertahan di Indonesia dari keserakahan manusia, dan itupun juga sudah di titik nadir.

“Baiklah, kita mulai pertemuan ini. Melihat kondisi hutan tropis Indonesia yang sekarat dan banyaknya flora dan fauna Indonesia yang telah punah, membuat populasi bangsa kita juga semakin berkurang. Agar kita tetap bisa memperpanjang hidup dan membantu Selma lainnya mempertahankan tanah mereka, saya menyarankan agar kita bermigrasi ke tanah Brazil. Hutan tropis Amazonlah yang masih bertahan sampai sekarang.” Haidar membuka pertemuan itu dan memulai pembicaraan.

“Saya kurang setuju dengan pendapat tuan, sekarang Ibu Pertiwi berada di Taman Nasional Kerinci Seblat sedang sekarat, dan itu merupakan hutan tropis terakhir Indonesia, kita tak mungkin meninggalkan Ibu Pertiwi di sana.”

“saya akan berjuang mati-matian agar tetap bertahan hidup di tanah ini, di tanah kelahiran saya, dan mempertahankan spesies saya agar tidak punah”. Dyani menyanggah saran Haidar untuk meninggalkan Indonesia dan Ibu pertiwi yang sekarat di tanah Sumatera.
Masing-masing Selma mempunyai satu spesies yang mereka wakili, jika spesies tersebut punah, maka dengan sendirinya Selma dari spesies itu juga akan sekarat dan mati. Oleh karena itu, para Selma berjuang mati-matian agar spesies yang mereka wakili dilindungi untuk tetap bertahan hidup. Seperti halnya Dyani dari tanah Sumatera, dia mewakili spesies rusa, maka Dyani harus melindungi rusa agar dia bisa terus hidup. Para Selma dapat mempertahankan hidupnya lebih lama lagi walaupun spesies yang mereka wakili telah punah, tapi mereka harus keluar dari tanah mereka masing-masing. Melakukan hal itu dapat mempertahankan hidup mereka sekitar setahun hingga dua tahun.

“Dyani, kami tidak akan melarangmu untuk tetap tinggal disini. Kamu mungkin masih mempunyai populasi rusa yang masih banyak yang dapat kau lindungi, dan kau dapat bertahan hidup lebih lama. Sedangkan kami, spesies yang kami lindungi hanya tinggal dua sampai lima ekor.” Baluku mencoba menerangkan lagi kepada Dyani.

“Dyani, saya mewakili beruang, sekarang jumlahnya hanya tinggal tiga Individu di Taman Nasional Kerinci seblat, jika saya bertahan di Tanah Sumatera, mungkin umur saya tidak akan lebih dari tiga bulan. Karena setiap sebulan sekali beruang akan mati diburu oleh manusia-manusia yang serakah. Oleh karena itu, lebih baik saya bermigrasi ke hutan tropis Amazon di Brazil, walaupun beruang telah punah di Sumatera kemungkinan saya masih bisa bertahan hidup sampai satu atau dua tahun di Brazil. Dalam umur yang singkat itu, saya bisa menghabiskan sisa hidup untuk mempertahankan hutan tropis terakhir di dunia, Amazon.” Baluku menambahkan lagi kata-katanya.

“kita memang harus bermigrasi, Indonesia akan jatuh, Indonesia tidak akan lagi mempunyai hutan tropis yang indah, flora dan fauna yang endemik, karena keserakahan dan keegoisan manusia. Manusia hanya memperhatikan diri mereka sendiri, mereka tak pernah memikirkan anak-anak mereka, cucu-cucu mereka yang akan hidup berdampingan dengan alam di masa depan, mereka hanya mewariskan keserakahan kepada keturunan mereka.” Harina dari Tanah maluku juga sependapat.
Selang beberapa saat setelah Harina berbicara, Hauda terjatuh dari kursi tempat ia duduk, Daksayini dengan cekatan langsung menangkapnya dengan lembut. Nafasnya sesak, keringat keluar dari tubuhnya yang lunglai, keringat itu lalu menguap. Matanya yang berkaca-kaca menatap Daksayini dengan penuh harap. Daksayini lalu mengusap dengan lembut wajah Hauda yang semakin memucat, Selma yang lain mengelilingi mereka.

“Ka…a..asuari terakhir telah dibunuh” Ucap Hauda yang tergagap dalam sekaratnya.
Hauda, Selma yang mewakili Kasuari dan melindungi burung tersebut dengan sepenuh jiwanya, telah gagal. Kasuari terakhir telah dibunuh oleh manusia. Mata Hauda lalu terpejam dengan pelan, nafas terakhirnya yang berhembus menyiratkan bahwa harapannya sebagai Selma telah pupus. Jasad Hauda sebagai Selma lalu menjadi butiran debu di dalam genggaman Daksayini, butiran debu itu lalu beterbangan dibawa angin yang berhembus, mengantarkan Hauda menyatu dengan alam, mengembalikannya ke pangkuan kasuari di Nirwana.

Semua mata tertegun melihatnya, setiap bulir air mata telah jatuh dari kelopak mata para Selma, rasa iba yang mendalam sangat mereka rasakan. Masing-masing Selma melihat Selma yang lainnya, peristiwa yang baru saja terjadi, juga akan terjadi pada mereka masing-masing, hanya menunggu punahnya spesies terakhir yang mereka wakili. Saat mereka keluar dari tanah Indonesia, mereka punya harapan hidup sekitar satu sampai dua tahun, Jika spesies yang mereka wakili telah punah. Itulah harapan terakhir mereka, di tanah Indonesia harapan telah menguap ke langit, pilu.

“Kasuari terakhir telah dibunuh, dan spesies itu sekarang telah punah, sebelum hal yang sama terjadi pada kita, kita harus bermigrasi sekarang juga ke hutan tropis Amazon !.” Hamamah berseru kepada seluruh Selma.

“iya !, kita harus pergi meninggalkan tanah ini sekarang !!” Haidar menegaskan.
Mereka bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan tanah Indonesia yang sudah tidak layak lagi untuk didiami, karena harapan di tanah ini telah sirna. Dyani hanya duduk diam memperhatikan saudara-saudara sebangsanya, ada banyak pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang tersisa dari Indonesia, tanah sekarang tempat Ibu Pertiwi berada dalam sekaratnya.

“baik, mari kita berangkat !.” Ucap Haidar kepada seluruh Selma.
Bangsa Selma Indonesiana yang tersisa hanya delapan Selma sekarang, mereka akan bermigrasi menuju hutan tropis terakhir di muka bumi, Amazon.

“tunggu…!” Ucap Dyani.

“saya tidak akan pergi ke hutan tropis Amazon, tapi saya akan pergi ke Taman Nasional Kerinci Seblat, mencari Ibu Pertiwi !.” Seluruh Selma menatapnya dengan keheranan.

“apakah kau serius? Kita tidak akan punya waktu menuju tanah Sumatera, jalannya begitu berbahaya, jika spesiesmu punah sebelum kau menemukan Ibu Pertiwi, maka matimu akan sisa-sia !.” ujar Daksayini.

“saya tetap akan pergi, saya tidak akan meninggalkan Ibu Pertiwi sendiri, saya akan mencarinya di Taman Nasional Kerinci Seblat. Jika nanti saya mati di tanah Sumatera, tidak apa-apa, karena saya juga dilahirkan disana. Saya akan mati di tanah kelahiran saya sendiri.” Dyani mengungkapkan isi hatinya.

“Tanah Sumatera adalah tanah terakhir yang tersisa di Indonesia, saya bertanggung jawab untuk melindunginya sampai hembusan nafas saya yang terakhir, sampai rusa terakhir terbunuh. Maaf, saya tidak dapat ikut bersama kalian” Dyani meminta maaf kepada para Selma karena tidak dapat bergabung bersama mereka menyelamatkan hutan tropis terakhir.

“Saya ikut bersama Dyani !” Hansa mengajukan diri untuk membantu Dyani.
Selma yang lain tercengang. Lalu waktu diam, sejenak, seperti terhenti, tak ada yang mampu berbicara, mereka mau mati demi Ibu Pertiwi yang sekarat karena keserakahan dan keegoisan manusia.

“Baiklah, Dyani dan Hansa menuju Taman Nasional Kerinci Seblat di tanah Sumatera. Saya, Baluku, Daksayini, Hamamah dan Harina menuju hutan tropis Amazon, di Brazil.” Haidar lalu memutuskan rombongan migrasi mereka menuju dua tempat.

“Sekarang kita berpisah disini, saya harap kalian bisa bertahan hidup lebih lama dan menemukan Ibu Pertiwi dengan cepat, semoga kita tidak mati sia-sia, semoga perjalanan kalian dimudahkan, selamat tinggal.”
Haidar mengucapkan salam perpisahannya, dan dibalas oleh Dyani. Dua rombongan itu berpisah, satu rombongan yang terdiri dari lima Selma menuju tanah Brazil dan dua Selma menuju Tanah Sumatera.

* * *

Dyani dan Hansa berjalan menelusuri Taman Nasional Kerinci Seblat yang sebagiannya telah tandus, karena manusia yang sedang giat mengonversi hutan menjadi sebuah perkebunan sawit yang luas. Sejauh mata memandang, Taman Nasional ini tidak lagi menyisakan hutan yang rimbun dan permai, tak ada lagi aliran air yang mengalir sesuai dengan ritme kicauan burung, yang ada hanya lahan gersang yang siap ditanami oleh salah satu spesies tumbuhan dari kelompok palmae. Rawa-rawa juga telah mengering, angsa-angsa mati mengenaskan dalam kering kerontangnya rawa. Hansa melihat bangkai itu dengan mata kepalanya sendiri, membuat nafasnya menjadi semakin sesak. Dia berharap masih ada angsa liar yang hidup di Taman Nasional ini, agar dia bisa bertahan hidup sebelum menemukan Ibu Pertiwi.

Bangkai-bangkai gajah berserakan dimana-mana, bangkai yang sudah tak bergading. Selama perjalanan itupun, Dyani dan Hansa melihat penebangan hutan menjadi-jadi. Taman Nasional hanya tinggal nama semata, atau hanya sebagai logo bagi pemerintah, agar para penguasa busuk itu tetap dibayar dalam perdagangan karbon. Disini tak ada lagi yang namanya pelestarian, yang ada hanya pemusnahan massal.

Hansa berjalan dengan gontai dan tertatih, nafasnya sesak. Ia merasakan dengan jiwanya, bahwa angsa terakhir masih bertahan hidup. Dari kejauhan ia melihat angsa itu dalam keadaan sekarat, tak jauh dari tempat mereka berada. Angsa itu menunggu ajal di dalam rawa yang kering kerontang, di antara saudara-saudaranya yang telah mati lebih dahulu. Hansa dapat merasakan, bahwa angsa itulah angsa terakhir yang tersisa di tanah Sumatera. Bersamaan dengan hal itu, seorang pemburu telah memperhatikan angsa sekarat ini sejak lama. Hanya sekali tembakan, pemburu itu dapat dengan mudah mengakhiri hidup angsa terakhir. Hansa hanya terpaku, menunggu sebutir peluru merenggut nyawa angsa terakhir tersebut, maka berakhir pulalah hidupnya sebagai Selma.
Dengan bidikan yang mantap.

“Tttiiiissskkk…” Peluru melesat dari selongsong senapan si pemburu.

“Jangaaaaaaaaaan……!!!” Teriak Hansa.
Hansa berlari menuju pemburu, tapi dia tak dapat melakukan apa-apa.
Hansa lalu tertegun mematung, dia terjatuh dan tertopang pada lututnya. Ia merasakan dingin dan kaku di seluruh tubuhnya, mukanya memucat, pasi. Hansa memandangi telapak tangannya, ujung-ujung jarinya telah berangsur menjadi debu, seperti yang di alami Hauda, debu itu dihembus angin, perlahan. Matanya lalu terpejam, seluruh tubuhnya menjadi debu, dihembus angin dan menyatu dengan alam, pulang ke pangkuan para angsa di Nirwana. Dyani menggapai-gapai tubuh itu, tubuh yang telah menjadi debu, lalu menghilang, pilu.
Dyani tersungkur di atas tanah harapannya, tanah Sumatera. Suatu saat gilirannya akan tiba, cepat atau lambat. Dia mencengkram tanah, lalu menggenggamnya dengan kuat. Pipinya tertempel ke bumi, tanah kelahirannya. Bulir air mata menganak sungai di pipinya, manusia sekarang hanya menyisakan kepunahan bagi bangsa mereka. Meninggalkan keturunan yang hanya mementingkan kepentingan ras mereka sendiri, ras manusia, anthroposentris. Senja menghantarkan matahari pulang ke pangkuannya, di tutupi asap tebal pembakaran hutan. Kilau senja kini kelabu, karena tertutup abu, kelu.

* * *

Pagi tadi Dyani menemukan Ibu Pertiwi yang sekarat dalam pangkuannya, Ibu Pertiwi telah memejamkan mata untuk selama-lamanya. Tak ada lagi yang tersisa, tanah terakhir telah jatuh. Indonesia telah jatuh, hanya dia Selma satu-satunya yang bertahan hidup. Mungkin sehari atau dua hari lagi dia akan bertemu dengan Hansa dan Hauda di Nirwana. Dyani melihat sekeliling, Taman Nasional Kerinci seblat telah gersang, kering kerontang. Tanah Sumatera, harapan terakhir para Selma telah jatuh.

Tidak genap hitungan hari, sesaat setelah Ibu Pertiwi pergi, tubuhnya juga dihembuskan angin. Tubuhnya menjadi debu, menjadi abu, mengantarkannya menyatu bersama alam, membawanya ketempat Hauda dan Hansa, tersenyum manis di Nirwana. Meninggalkan Indonesia yang gersang dan kering kerontang, meninggalkan zambrud khatulistiwa yang terbakar.

SELMA INDONESIANA the series.

Oleh : Robby Jannatan

E-mail: robbyjannatan{a}gmail.com

 

 

 

 

 

Jadi, Nikmat Mana Lagi yang Telah Kita Dustakan?

“Aduuh….macet lagi, macet lagi” gumam seorang suami, di dalam mobilnya.

“iya sih, bapak lewat jalan ini, jalan ini kan macet terus pak” istrinya juga ikutan mengeluh.

“udah hari panas, gerah, ntar kan aku arisan bisa telat pak” sambung istrinya lagi…

Matahari semakin menusuk, hingga menyengat sampai ke dashboard mobil.

Setiap hari kita selalu mengeluh, dimana saja, kapan saja, pada siapa saja. Tidakkah kita mau sedikit bersyukur, kita telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan yang lain. Tidakkah kita tau, orang yang mempunyai mobil, telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan orang yang mempunyai motor. Tidak kita menyadari, pada saat macet, pengendara bermotor akan jauh lebih kepanasan daripada orang yang mengendari mobil. yang punya motor, jika panas, akan kepanasan, yang hujan akan kehujanan. Sedangkan yang di dalam mobil tinggal mengatur suhu di tombol AC, selesailah semua permasalahan, tapi masih mengeluh. Tidakkah sadar bahwa pengendara motor telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan pengendara sepeda, “aduh, kok panas kali hari ini”, masih saja mengeluh. Dan pengendara sepeda masih saja mengeluh, yang rantai sepedanya berulang kali lepas. Tidakkah dia sadar bahwa dia telah dilebihkan satu kenikmatan atas pejalan kaki. Jadi, apakah setiap nikmat itu memang selalu kita dustakan? Jadi, nikmat mana lagi yang kita dustakan?.

Sekarang kita coba sedikit bahas tentang pergumulan saya pada QS. Al-Baqarah: 286, dan penggalannya dibawah ini:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Lalu apa hubungan penggalan ayat ini dengan selalu bersyukur?, mari kita bahas lebih jauh. Kalau menurut saya, ayat ini tidak hanya berlaku untuk orang yang tertimpa bencana saja, tapi penggalan ayat ini berlaku untuk semua hal di dalam hidup ini. Bukankah kita hidup ini adalah cobaan. Bukankah semua hal yang diberikan di atas dunia ini adalah cobaan.

Sekarang kita coba ambil satu contoh. Telah banyak orang yang telah berusaha keras untuk mengais rezki, memperjuangkan karirnya, namun tak juga kaya. Telah banyak mahasiswa yang belajar keras, namun tak juga dapat IPK tinggi. Telah banyak orang berusaha agar dikaruniai anak, namun tak kunjung dapat. Telah wisuda, tapi tak kunjung dapat kerja. Yang kita tahu hanyalah keluhan. Namun tidakkah kita tahu, bahwa Allah telah memberikan yang paling baik. Kenapa kita tidak kaya? Karena kita belum sanggup, karena kaya itu adalah beban. Kenapa IPK kita belum juga tinggi? Padahal sudah berusaha keras, karena kita belum sanggup, karena IPK itu adalah beban. Kenapa belum juga dapat kerja? Padahal sudah Sarjana, karena kita belum sanggup memikul beban tersebut. Sekarang kita coba fikir, jika Allah memberikan semua beban itu saat kita belum sanggup memikulnya? Kita belum sanggup jadi orang kaya, lalu diberi kekayaan, maka ujungnya akan serakah, ujungnya akan sombong. Kita belum sanggup menerima IPK tinggi, lalu diberi IPK tinggi, mungkin kita akan jadi sombong, lalu jadi malas belajar. Kenapa kita belum juga dikaruniai anak, anak itu cobaan, istri cantik itu cobaan, semuanya cobaan, kalau kita sanggup, maka Allah akan berikan beban itu. Maka bersyukurlah, karena Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita belum sanggup memikulnya.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghaabuun: 15)

Jadi syukurilah apapun yang terjadi pada hidup ini. Berbaiksangkalah kepada Allah. Kenapa Allah tidak memberitahukan apa yang akan terjadi di masa depan kepada kita? karena agar kita jadi orang yang barbaik-sangka, orang yang sabar atas setiap rangkaian proses yang belum Allah selesaikan, dan akhirnya kita tau bahwa setiap hal untuk kita, agar kita bersyukur.

Contoh lain lagi, Allah telah menetapkan di ujung jalan bahwa kita akan menjadi seorang pengusaha sukses. Namun rangkaian proses dan jalan cerita yang Allah siapkan menuju ujung jalan itu sangatlah susah, waktu kuliah sudah berusaha keras, IPK tidak juga kunjung tinggi, lalu dapat pembimbing skripsi yang killer, akhirnya tamat lama, terancam DO pula, lalu pada saat itu, berhakkah kita mengeluh, lalu berburuk sangka kepada Allah, bahwa Allah memberikan proses yang sangat buruk. Seharusnya kita bersyukur, bahwa Allah telah menyanggupkan kita atas beban yang ia berikan. Namun kita langsung men-judge Allah tidak adil, karena orang lain IPKnya tinggi, tamatnya cepat dan langsung dapat kerja. Namun kita pengangguran setelah Sarjana. Berhakkah kita langsung mengambil kesimpulan yang kurang baik dan tegesa-gesa atas setiap rangkaian proses yang Allah sendiri belum menyelesaikannya. Apakah kita pernah tau, saat kita tidak dapat kerja setelah Sarjana, kita malah membuka suatu usaha, lalu jadi pengusaha sukses. Tapi kita malah telah men-judge Allah dengan tergesa-gesa bahwa Allah tidak adil.

Kenapa kita tidak berbaik sangka saja terhadap apa yang telah Allah berikan?. Kita telah menonton film-film di TV dan membaca cerita-cerita di novel. Film dan cerita mana yang kita sukai?. Pasti cerita yang penuh lika-liku, cerita yang tidak tertebak akhirnya dan cerita yang jalan ceritanya tidak hanya hambar saja. Begitu pulalah hidup, cerita orang-orang yang berkesudahan bagus di akhirnya pasti mempunyai alur yang rumit dan akhir yang susah ditebak. Allah telah mengatakan dalam QS. Ad-Dhuha, bahwa akhir itu lebih baik daripada awal. Dan apakah kita selalu mendustakan nikmat Allah? Jadi nikmat mana lagi yang harus kita dustakan. Apakah dengan hal itu saja kita berhak tidak berbaik sangka kepada Allah.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” kalimat ini diulang sampai 31 kali. Jadi nikmat mana lagi sekarang yang telah kita dustakan?.

 

Oleh : Robby Jannatan (robbyjannatan{a}gmail.com)

Foto Oleh : Dio Try Ananda (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=798918386895329&set=pb.100003315250691.-2207520000.1470995562.&type=3&theater)

 

ESENSI SHALAT SEBAGAI PENOLONG

“Adeek….shalat dulu !, waktu shalatnya dah hampir habis tu”

“iya Maa…, tunggu bentar, lima menit lagi”

“ayo Deek…!, ntar dapat dosa trus masuk neraka lho”

“iya Ma, iya deh Ma, ni Adek shalat lagi Ma…”

 

Begitulah percakapan yang sering kita dengar sehari-hari, shalat seakan-akan menjadi beban dalam hidup. Kenapa demikian?, karena orang tua menanamkan doktrin kepada kita dari kecil, bahwa jika kita tidak shalat, kita akan dapat dosa dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Kita selalu menanamkan akibat dari suatu perbuatan ke dalam memori anak-anak, sehingga perbuatan tersebut menjadi berat. Kita selalu menanamkan doktrin bahwa jika tidak shalat akan mendapat dosa, sehingga perbuatan shalat itu sendiri menjadi berat untuk dilakukan. Apakah kita pernah menikmati shalat? Sehingga ketika kita shalat, kita tidak pernah ingin untuk menghentikannya, saking nikmatnya yang kita rasakan. Oleh sebab itu, Seharusnya kita menanamkan bahwa shalat itu adalah sebagai kebutuhan dan penolong kita, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan kita dengan cara berinteraksi dan bertemu dengan Pencipta. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-qur’an:

 

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

 

Allah SWT telah berfirman bahwa shalat adalah penolong bagi manusia, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan dengan jalan berinteraksi dengan Pencipta. Tapi apakah kita pernah menjadikan shalat sebagai penolong? pasti itu hanya dilakukan oleh ahli ibadah yang telah merasakan nikmatnya shalat dan esensi dari shalat itu sendiri. Lalu bagaimana dengan kita? Kita pasti merasakan shalat itu hanya sebagai beban, sehingga shalat itu menjadi sangat berat. Dan memang demikian, shalat sebagai penolong memang sungguh berat, telah dipaparkan dalam ayat di atas, namun ada pengecualiannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Apakah kita pernah mencapai khusyu’? dan tahukah kita seperti apa khusyu’ tersebut?. Ayat di atas kembali memaparkan bahwa, khusyu’ akan didapat oleh orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa ketika shalat dia sadar akan menemui tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.

Jika memang ingin khusyu’ ketika shalat, sadarilah bahwa kita sedang menemui Tuhan. Jika ingin menemui Tuhan, pakailah pakaian terbaik yang kita punya. Jangan memakai pakaian terbaik saat menemui Bos saja. Lalu bersihkanlah diri, sucikan dengan wudhu’ yang sempurna. Rasulullah pernah mengatakan bahwa, jika seseorang melakukan wudhu’ dengan sempurna, maka Allah tidak hanya menyucikan bagian tubuh yang terkena wudhu’ saja, melainkan menyucikan seluruh tubuhnya. Lalu bentangkanlah Sajadah terbaik yang telah ditaburi dengan harumnya minyak wangi. Karena minyak wangi adalah salah satu cara dalam metoda aroma terapi. Bukankah Rasul telah menjelaskan tuntunannya? Apakah pernah kita baca tuntunan tersebut? bagaimana whudu’ yang sempurna, bagimana tata cara shalat yang sempurna. Ingatlah, kita sedang menemui Allah, kita harus persiapkan diri kita sebaik mungkin untuk bertemu dengan-Nya.

Lalu khusyu’ itu adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Shalat adalah jalan kita kembali kepada Pencipta. Rasulullah pernah mengatakan bahwa shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang Muslim. Mi’raj adalah naiknya jiwa, naiknya jiwa kembali kepada pencipta. Shalat adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan bagi jiwa agar terlepas dari kungkungan diri yang fana, diri yang berasal dari tanah. Ketika orang-orang shalat dengan khusyu’ (bahwa dia yakin jika sedang kembali kepada Pencipta) maka seperti apapun keributan yang terjadi, dia tidak akan terganggu, karena pada saat itu jiwa sedang mi’raj. Niat dan konsentrasi shalat orang-orang yang sedang khusyu’ adalah seperti salah satu perlombaan tujuh belas agustusan. Lomba membawa kelereng dengan sendok, kemudian sendoknya digigit dengan gigi. Apakah kita pernah melakukan perlombaan itu? Pasti pernah. Ketika seseorang melakukan perlombaan tersebut, dia berusaha dengan fokus dan konsentrasi agar kelerengnya tidak jatuh dari sendok, walaupun dilakukan sambil berlari, ketika fokus dan konsentrasi kepada kelereng, apakah kita terganggu dengan teriakan orang-orang yang berusaha memberikan semangat, keributan orang-orang yang berteriak. Pasti kita akan menghiraukan mereka, karena kita sedang fokus agar kelereng tidak jatuh dari sendoknya. Seperti perumpamaan tersebutlah hendaknya kita mengerjakan Shalat.

Ketika salah seorang sahabat Nabi tertusuk oleh panah, beliau tidak sanggup menahan sakit ketika panah tersebut dicabut oleh sahabat lain. Karena saking sakitnya, beliau meminta agar panah itu dicabut ketika beliau shalat. Saat shalat telah didirikan, sahabat yang lain mencabut panah tersebut. Lalu apa yang terjadi, beliau tidak merasakan apa-apa, beliau tidak merasakan sakit. Karena jiwa beliau sedang mi’raj, lepas dari kungkungan tubuh yang fana.

Secara umum, esensi ibadah sebenarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Tuntunan-tuntunan yang di gariskan agama adalah untuk kebaikan diri dari manusia itu sendiri. Shalat dan ibadah secara umum adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan kepada jiwa agar lepas dari penjara keduniaan, agar lepas dari raga atau tubuh yang fana. Jiwa suka kebaikan dan hal yang bersifat kepada akhirat, karena akhirat adalah tempat kembali jiwa. Dan jiwa ingin selalu menemui jalan pulangnya, menuju Pencipta. Sedangkan tubuh atau jasad yang fana ini, diciptakan dari tanah, dan tanah adalah milik dunia. Tubuh suka kepada hal yang bersifat keduniaan. Oleh sebab itu, Rasulullah pernah mengatakan bahwa, musuh terbesar manusia itu adalah dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang dimaksud disini sebenarnya adalah tubuh yang fana. Jika kita selalu menuruti keduniaan dan nafsu, maka itu akan menghambat jalan jiwa, sehingga jiwa terkungkung dalam penjara tubuh. Nafsu di dalam bahasa arab berasal dari kata Nafs, yang berarti diri. Nafsu adalah kehendak diri, dan lawan terbesar kita adalah diri itu sendiri.

Jika seseorang melakukan shalat karena beban dan terpaksa, maka Rasulullah mengatakan bahwa kita hanya akan mendapatkan capek dan lelah semata, padahal shalat itu sendiri adalah sebagai penolong. Abu sangkan mengatakan bahwa shalat itu adalah meditasi dalam Islam, untuk apa kita mencari jalan meditasi lain, padahal agama kita telah mengajarkan cara meditasi terbaik, yaitu shalat, sebagai salah satu jalan menemui ketenangan dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, shalat manfaatnya adalah bagi manusia itu sendiri. Sekarang ambillah whudu’, luruskan niat dan fokuslah seperti seseorang yang sedang lomba membawa kelereng di dalam sendok, kenakanlah pakaian terbaik, bentangkan sajadah yang bersih, bukan sajadah yang sudah berbulan-bulan tidak dicuci, lalu bernafaslah dengan tenang dan teratur, rasakan dan jangan tergesa-gesa, karena tuma’ninah adalah tenang dan tidak tergesa-gesa. Setelah itu bacakanlah setiap do’a-do’a di dalam shalat. Kemudian sujudlah dengan tenang, karena jarak terdekat antara hamba dengan Tuhannya itu adalah ketika sujud. Lalu mintalah ampun ketika sujud itu, berdolah ketika sujud itu, karena ketika itu kita pada jarak terdekat dengan Allah. Kalau memang ingin mencapai kebahagiaan sejati dan ingin mendapatkan solusi dalam setiap permasalahan hidup. Maka sempurnakanlah shalat.

Rasulullah mengatakan bahwa, amalan yang pertama kali dihisab itu adalah shalat. Jika seseorang diterima shalatnya, maka amalan lainnya akan diterima. Allah akan menghisab shalat, jika shalatnya sempurna, maka ibadah lainnya juga akan sempurna. Shalat adalah pencegah manusia melakukan yang mungkar, sehingga orang yang sempurna shalatnya, mustahil melakukan sesuatu yang mungkar. Jika seseorang telah merasakan nikmatnya shalat dan merasakan bagaimana jiwa itu menemui jalannya menuju Pencipta, maka ia tidak akan melakukan hal yang mungkar yang menjadikan jalan jiwa untuk mi’raj menjadi terhalang. Sahabat ketika melihat Rasul shalat, mereka mengatakan bahwa, jika beliau sujud, maka seakan-akan tidak akan bangkit, ketika beliau ruku’, seakan-akan beliau tidak akan I’tidal karena saking lamanya. Beliau juga mengatakan bahwa pekerjaan yang paling ia sukai adalah shalat. Karena Beliau telah merasakan nikmatnya shalat dan mendapatkan kebahagiaan karenanya. Rasul pernah mengatakan kepada Bilal bahwa, “hai Bilal, jadikanlah shalat sebagai istirahatmu”.

Shalat adalah untuk manusia itu sendiri, penolong bagi manusia itu sendiri, maka sempurnakanlah shalat. Dan sampaikanlah kepada anak-anak bahwa shalat itu adalah sebagai penolong. jika mereka mendapat permasalahan, maka suruhlah mereka shalat dan mintalah pertolongan kepada Yang Maha Pemberi Pertolongan.

 

 

 

Oleh    : Robby Jannatan

e-mail : robbyjannatan@gmail.com*

 

*Jika terdapat kesalahan di dalam artikel ini, atau ada kritikan, saran dan ingin berdiskusi bisa disampaikan lewat email.